JEMBER, Tugujatim.id – Prof Dr Sukatman MPd baru saja dikukuhkan sebagai guru besar bidang Tradisi Lisan Nusantara dan Pembelajarannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP Unej).
Mengusung orasi ilmiah berjudul “Tradisi Lisan Nusantara dan Kontribusinya bagi Ketahanan Nasional dan Pendidikan Era Persaingan Antar Bangsa”, Prof Sukatman menyebut pentingnya tradisi lisan.
Baca Juga: Semangat Peserta UTBK SNBT 2025 di Unej, Difabel dan Patah Kaki Tetap Ujian
Bukan hanya sekadar peninggalan budaya, melainkan tradisi lisan merupakan fondasi jati diri bangsa yang telah ada sebelum kemunculan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dia menyingkap eksistensi dinasti-dinasti Nusantara kuno seperti Dinasti Cahaya, Nisan, Sura, dan Saka yang menurutnya menjadi dasar pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dia mengingatkan bahwa sejarah mencatat bagaimana wilayah Nusantara terpecah menjadi beberapa negara seperti Pattani di Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Papua Nugini, hingga Timor Leste akibat kolonialisme Barat. Menurut dia, hal ini perlu menjadi pertimbangan serius dalam merumuskan strategi menjaga keutuhan NKRI.
Penelitian Prof Sukatman sering kali membawanya menjelajah langsung ke berbagai situs budaya. Salah satunya saat melakukan penelitian di situs Gunung Padang, Cianjur.
Setelah tiga kali berkeliling situs tanpa menemukan hasil, dia akhirnya meminta bantuan juru pelihara setempat untuk melakukan ritual adat. Menariknya, data tersebut justru berhasil ditemukan.
“Ini memang tidak bisa dijelaskan secara akademis, tetapi saya hormati adat dan budaya lokal di sana,” kisahnya.
Tantangan Teliti Tradisi Lisan Kuno
Penelitian mengenai tradisi lisan kuno menghadapi tantangan besar, terutama karena minimnya sumber akademik mengenai sejarah sebelum 10.000 SM. Namun Prof Sukatman meyakini pentingnya perspektif lokal dalam menafsirkan sejarah demi membangun rasa percaya diri generasi muda dan memperkuat posisi Indonesia di ranah global.
Dia bahkan turut berperan dalam merekonstruksi sejarah Kebudayaan Nusantara sejak 30.000 SM hingga abad pertama Masehi, sebagai dasar historis dalam konflik wilayah seperti sengketa Sipadan dan Ligitan. Dia mengkritisi pandangan sejarah yang terlalu terfokus pada Sriwijaya dan Majapahit, padahal banyak peradaban yang lebih tua telah ada.
Prof Sukatman mendorong agar sejarah Nusantara purba menjadi bagian dari pendidikan nasional sebagai upaya membangun jati diri dan kepercayaan diri generasi muda. Selain itu, dia mengajak penataan ulang narasi sejarah dengan pendekatan kritis dari sudut pandang Nusantara, bukan berdasarkan perspektif Barat. Menurut dia, pendekatan ini strategis dalam memperkuat pendidikan karakter dan ketahanan nasional.
Dalam konteks budaya lokal, Prof Sukatman juga mengajak agar masyarakat mengembangkan wacana budaya Pandhalungan secara lebih progresif dan kritis. Termasuk reinterpretasi tokoh-tokoh seperti Raja Minak Jingga berdasarkan bukti arkeologis, penamaan daerah, dan situs megalitik di wilayah timur Jawa dan Nusantara.
Dia juga menyebut kawasan Pegunungan Argopuro sebagai wilayah yang menyimpan peninggalan budaya besar, bahkan memiliki potensi keterkaitan dengan kisah Nabi Nuh berdasarkan bukti lisan dan arkeologis. Wilayah ini dinilainya layak dikembangkan untuk kepentingan riset, wisata religi, dan pendidikan kebangsaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








