Panen Raya dan Tolak Bala, Warga Sirigan Ngawi Gelar Wayang Kulit hingga Hadirkan Dagelan Kondang Yudho Bakiak

Wayang kulit. (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)
Kepala Desa Sirigan Ngawi Suyanto (kanan) menyerahkan wayang kulit kepada dalang Ki Gilang Pandu Permana di Desa Sirigan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jumat malam (01/07/2022). (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)

NGAWI, Tugujatim.id – Pasca pandemi virus Covid-19 yang melanda lebih dari 2 tahun, membuat ratusan warga Desa Sirigan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ingin kembali berbenah. Salah satunya dengan cara menggelar pertunjukan wayang kulit yang mengangkat lakon “Banjaran Gatotkaca” pada Jumat malam (01/07/2022). Selain kembali melestarikan budaya, ini adalah sebagai bentuk rasa syukur warga atas panen raya yang berlimpah dan bersih desa.

Pertunjukan wayang kulit ini pun menghadirkan dalang Ki Gilang Pandu Permana yang berasal dari Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Selain itu, juga dihibur dagelan kondang asli Ngawi yaitu Yudho Bakiak.

Tentu saja, kegiatan dalam rangka panen raya dan bersih desa ini digelar begitu meriah karena warga sudah lama tidak pernah menikmati hiburan budaya selama diterpa pandemi. Apalagi pertunjukan ini dihadiri sekitar 700-an orang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

Wayang kulit. (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)
Warga tampak antusias melihat pertunjukan wayang kulit yang digelar di Desa Sirigan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat malam (01/07/2022). (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)

Kepala Desa Sirigan Suyanto mengatakan, acara seperti ini memang menjadi kegiatan rutin tahunan, apalagi pas panen raya sekaligus bersih desa. Tapi, karena selama 2 tahunan lebih diterpa pandemi Covid-19 akhirnya terhenti.

“Acara pertunjukan wayang kulit ini sebenarnya agenda tahunan. Tapi, harus terhenti karena ada pandemi. Kan tidak boleh ada kerumunan,” ujarnya pada Sabtu (02/07/2022).

Menurut dia, bukan tanpa alasan mengapa pertunjukan wayang kulit kali ini mengangkat lakon “Banjaran Gatotkaca”. Sebab, dia ingin warga mencontoh tokoh Gatotkaca yang gigih dalam memperjuangkan cita-cita. Harapannya, warga semakin gigih dalam bekerja meski ada banyak rintangannya.

“Tokoh Gatotkaca adalah sosok yang gigih untuk meraih cita-cita. Jadi, acara ini sekaligus untuk memotivasi masyarakat agar tetap giat dan semangat bekerja. Tapi, memang yang utama ini sebagai bentuk rasa syukur karena sudah panen raya yang melimpah dan bersih desa,” ujar ayah 3 anak tersebut.

Menurut dia, pihaknya juga ingin mengajari generasi muda untuk menghargai para leluhur desa dengan menghasilkan panen yang melimpah. Dia melanjutkan, ini sudah menjadi adat istiadat adat budaya yang selalu dilestarikan oleh pemerintah desa dan masyarakat.

Suyanto juga mengatakan sangat senang acaranya berjalan dengan lancar dan melihat warga antusias serta senang.

“Saya merasa senang dan bahagia karena pertunjukan kali ini masyarakat desa sangat antusias. Bahkan, penontonnya membeludak,” imbuhnya.

Dia berharap acara ini juga sebagai upaya menolak bala masyarakat sini.

“Saya juga berharap dengan adanya pagelaran wayang ini bisa menjadi tolak bala untuk masyarakat di sini agar terhindar dari wabah maupun penyakit yang berbahaya,” katanya.

Selain ada pertunjukan wayang kulit, warga juga dihibur dagelan kondang Yudho Bakiak. Bahkan, warga sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar guyonannya yang sangat lucu.

Salah satunya yang membuat warga tergelitik ketika Yudho Bakiak mengomentari soal rumah Bapak Kades Sirigan.

“Saya kira pilar rumah Bapak Kades Sirigan ini ada ukirannya, ternyata ada rayapnya,” sontak penonton yang mendengarnya pun tertawa kencang.

Wayang kulit. (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)
Dagelan kondang asli Ngawi Yudho Bakiak saat menghibur warga di Desa Sirigan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat malam (01/07/2022). (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla/Tugu Jatim)

Di sela-sela banyolannya, dia juga memberikan wejangan kepada masyarakat desa untuk selalu menghargai leluhur dengan tetap melestarikan budaya yang ada.

“Hargai leluhurmu dengan tetap melestarikan budaya kita njih,” pesannya kepada warga.

Sementara itu, salah satu penonton Nur Kolis, warga Desa Sirigan, mengatakan senang dengan adanya pagelaran wayang kulit ini.

“Senang sekali dengan adanya acara pagelaran ini karena setelah 2 tahun hanya dilaksanakan dengan sederhana. Malam ini (01/07/2022), kami bisa melaksanakannya dengan semarak seperti tahun-tahun lalu sebelum pandemi,” tutupnya.

Untuk diketahui, acara ini dihadiri beberapa pejabat pemerintahan yang ada di Kabupaten Ngawi. Mulai dari DPRD, Danramil, kapolsek Paron, kepala desa se-Kecamatan Paron, dan perangkat desa setempat.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim