Tugujatim.id – Harapan baru muncul untuk kelanjutan megaproyek Kilang Minyak Tuban. Rusia memberi sinyal kuat untuk kembali mendukung proyek strategis nasional yang sempat mandek itu.
Setelah bertahun-tahun tak tahu arah, proyek Kilang Minyak dan Petrokimia Tuban di Jawa Timur akhirnya menemui titik terang. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan komitmen negaranya untuk kembali bekerja sama dalam proyek yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Putin saat menerima kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, Rusia, Kamis (19/06/2025).
Baca Juga: Tiga Tahun Menanti, Warga Relokasi Proyek Kilang Tuban Belum Kantongi Sertifikat Tanah
Dalam pertemuan itu, Putin menyebut bahwa perusahaan migas Rusia siap memperluas kerja sama dengan Indonesia, termasuk menambah pasokan energi seperti minyak dan gas alam cair.
“Kami siap melanjutkan proyek pembangunan kilang minyak Tuban dan kompleks Petrokimia di Jawa Timur bersama Pertamina,” ujar Putin dikutip dalam laman resmi Setpres.go.id, Jumat (20/06/2025).

Putin juga membuka peluang kerja sama baru, termasuk dalam modernisasi infrastruktur dan peningkatan produksi minyak dari ladang tua.
Proyek kilang ini sebelumnya dijalankan oleh PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), perusahaan patungan antara Pertamina dan Rosneft. Namun, sejak 2022, proyek ini nyaris tidak bergerak karena Rosneft terkena sanksi internasional akibat invasi Rusia ke Ukraina. Sanksi tersebut membuat perusahaan kesulitan mengakses pendanaan, teknologi, dan jasa konstruksi internasional.
Padahal, proyek ini dirancang untuk mengolah hingga 300.000 barel minyak mentah per hari. Nilai investasinya pun fantastis, mencapai sekitar US$13,5 miliar atau setara Rp238,5 triliun. Namun, tanpa adanya keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) dari Rosneft, pembangunan tidak bisa berjalan.
Pertamina sendiri menguasai 55% saham PRPP melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Sisanya, 45%, dimiliki oleh Rosneft Singapore Pte Ltd.
Langkah Konkret Belum Ada Kejelasan
Meski pernyataan Putin memberi angin segar, namun hingga kini belum ada kejelasan soal langkah konkret selanjutnya. Termasuk apakah Rosneft akhirnya bersedia mengucurkan FID, yang selama ini menjadi batu sandungan utama proyek.
Pemerintah Indonesia sebelumnya mendesak agar keputusan tersebut bisa segera dibuat. Sebab, proyek ini tak hanya menyangkut ketahanan energi nasional, tapi juga menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi salah satu tulang punggung industri petrokimia dalam negeri.
Untuk diketahui, Kilang Minyak Tuban merupakan bagian dari ambisi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM dengan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah di dalam negeri.
Kini, harapan kembali menyala. Tinggal menunggu, apakah komitmen yang diucapkan di St. Petersburg itu akan benar-benar diwujudkan di tanah Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








