Puncak Silaturahim: Berkunjung ke Rumah

  • Bagikan
Ali Salim, wartawan senior yang kini tinggal di Kota Surabaya, Jawa Timur, bersama CEO Paragon Salman Subakat serta Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Ali Salim, wartawan senior yang kini tinggal di Kota Surabaya, Jawa Timur, bersama CEO Paragon Salman Subakat serta Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

Oleh Ali Salim

Tugujatim.id – Di masa kini, berkunjung ke rumah sudah jadi tradisi lama yang hampir punah. Terutama bagi tamu yang bukan anggota keluarga. Ruang tamu di keluarga menengah yang biasanya dihiasi sofa bagus bahkan dengan lampu gantung kristal, sudah jarang jadi rujukan orang.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Ruang tamu menjadi sesuatu yang asing di rumahnya sendiri. Kursi-kursi bagus itu baru diduduki kalau ada petugas sensus pemilu atau pak RT yang datang untuk mengabari sesuatu. Selebihnya ruang tamu menjadi onggokan kosong tak bernyawa dan penjadi pelengkap penderita sebuah rumah. Kecuali kalau ruang tamu juga berfungsi sebagai ruang keluarga.

Tapi bagi Dr Aqua Dwipayana, Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, ruang tamu wajib diramaikan. Ia harus jadi media pemersatu antara penghuni rumah dengan pihak luar. Ruang tamu perlu terus dihidupkan dengan obrolan dan keramahan. Tradisi berkunjung ke rumah tak boleh pupus hanya karena ada gadget, ruang tamu virtual yang sudah mengganti peran ruang tamu kita sendiri.

Bagi Dr Aqua, berkunjung ke rumah seseorang adalah puncak hakiki sebuah silaturahim. Ia menjadi roh yang menghidupkan sekaligus melanggengkan sebuah persahabatan. Kunjungan ke rumah juga akan menyegarkan kembali hubungan antar manusia yang selama ini hanya bertukar kata dan pena lewat jejaring sosial.

Dr Aqua Dwipayana sendiri selalu mencari celah untuk mengisi kesibukan jadwalnya dengan kunjungan ke rumah seseorang. Bahkan tidak saja menemui sang sahabat, teman lama, bekas rekan kerja, tapi juga ke keluarga mereka.

Ketika orang tua Ventje Suardana, teman akrabnya masih di Surabaya, bila kebetulan punya jadwal tugas di Kota Pahlawan, Dr Aqua sering mengunjungi kedua orangtua Ventje. Atau orangtua sahabatnya yang lain meski tinggal di pelosok desa. Ini berarti berkunjung ke rumah, harus bermakna mengenali dengan akrab seisi rumah dan keluarganya. Makna silaturahim menjadi paripurna apabila hubungan dengan seseorang dapat merangkul kerabatnya.

Itulah sebabnya dalam safari Ramadhan tahun ini, Dr Aqua tetap memprioritas acara kunjung mengunjung ini. Entah itu pejabat, tokoh masyarakat atau orang biasa sekalipun. Dan saya beruntung, sebagai orang biasa, mendapat kunjungan Dr Aqua. Walaupun di mata Dr Aqua, acara ini sudah jadi rutinitas.

Ia selalu ingin memanfaatkan setiap waktu yang ada dengan silaturahim, tema yang jadi moto utama bila ingin sukses. Apalagi dalam setiap kunjungan harus bermakna dan berkesan. Harus diisi dengan keakraban dan saling berbagi. Tamu datang dengan buah tangan, tuan rumah membalas dengan keramahan dan keceriaan.

Saya pernah menghitung, dalam sehari Dr Aqua bisa mengunjungi sekitar 10 titik. Acara formal seperti rapat, ngobrol di kafe, berkunjung ke kantor, memberi ceramah atau berkunjung ke rumah. Bahkan di jalan sekalipun, ia berusaha kontak dengan pihak lain lewat hape.

Dengan saya, beberapa kali Dr Aqua menelepon dan mengajak bertemu. Tadinya saya mengira hanya untuk membahas sesuatu. Saran saya agar pertemuan bisa berlangsung di tempat yang mudah dijangkau Dr Aqua sehingga tak mengganggu jadwalnya yang padat. Maklum rumah saya berada di pelosok Surabaya Timur, agak jauh dengan jalan tol, bandara atau pusat kota. Tapi dia tetap berkeinginan bahkan terkesan ‘ngotot” agar bisa ke rumah. Baginya silaturahim ke rumah, akan membawa dampak spiritual yang luar biasa, apalagi kalau bisa berkenalah dengan semua anggota keluarga.

Langsung Akrab

Setelah hampir 5 tahun berkenalan dengan doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung itu, Jumat pagi, 9 Februari 2021, Dr Aqua menelepon dari Malang. Ia mengatakan saat ini masih ada acara sehingga diperkirakan siang atau sore bisa mampir rumah saya di Surabaya. Saya tidak bisa berkelit karena nada teleponnya cukup meyakinkan dan agak memaksa.

Saya tak punya banyak waktu persiapan, apalagi ia sudah tiba lebih awal dari jadwal yaitu pukul 13:00. Yang luar biasa adalah ia tak merasa canggung dan bisa langsung akrab dengan seisi rumah. Bahkan Dr Aqua tak keberatan  ketika tuan rumah agak tergopoh-gopoh dan hanya bisa  menyajikan rujak petis khas Surabaya.

Mantan wartawan di banyak media besar itu sangat menikmati rujak apalagi dengan kerupuk. Ia ternyata penggemar kerupuk. Setelah ngobrol cukup lama, ia pamit karena ada jadwal ke Mojokerto untuk silaturahim ke Danrem 082/Citra Panca Yudha Jaya Kolonel Inf M Dariyanto dan juga ada janjian dengan Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya Brigjen TNI Herman Hidayat Eko Atmojo, malam hari.

Ketika pamit pulang, saya dengan terbata-bata mengatakan istri saya sebenarnya sedang menyiapkan makanan tapi butuh proses, karena perkiraan Aqua tiba sore. Spontan Aqua menimpali dan sekaligus agar tidak mengecewakan tuan rumah, berjanji akan kembali. “Mungkin agak malam Pak Ali, nggak apa-apa ya kalau saya bertamu tengah malam. “ tuturnya sambil pamit.

Entah kebetulan atau tidak, saya mendapat kunjungan Dr Aqua Dwipayana di hari istimewa. Kunjungan di atas  pas di Hari Pers, 9 Februari 2021. Saya hanya menduga memilih hari istimewa itu  karena saya kebetulan wartawan senior yang sudah pensiun.

Siang itu bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana ini langsung ngobrol dengan akrab, bahkan ikut melihat seputar rumah saya. Ia memposisikan diri bukan lagi sebagai seorang tamu, tapi menjadi bagian dari anggota keluarga.

Sekitar Pukul 21.00 Dr Aqua mengabari sudah kembali ke Surabaya tapi masih bertamu ke rumah Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya Brigjen TNI Herman Hidayat Eko Atmojo. Menjelang pukul 22, sang motivator kita ini sudah tiba dan memuaskan keinginan tuan rumah agar dapat mencicipi makanan yang telah disiapkan.

Lagi-lagi, Dr Aqua menunjukkan bahwa ia bisa menikmati makanan yang disajikan dengan tulus, bukan sekedar ingin menggembirakan tuan rumah. Padahal makanan yang kami sajikan adalah nasi kebuli dengan kambing goreng. Makanan yang butuh selera khas. Alhamdulillah, Dr Aqua terbiasa menikmati segala jenis makanan karena niatnya ikhlas dan ingin membuat tuan rumah tak merasa sia-sia.

Kunjungan berikutnya terjadi pada Hari Kartini. Rabu, 21 April 2021. Apa hubungannya saya dengan Hari Kartini? Ternyata di hari itu Dr Aqua mengajak Salman Subakat, Chief Executive Officer (CEO) Paragon Technology and Innovation yang memproduksi merk kosmetik paling terkenal di Indonesia saat ini, Wardah.

Dr Aqua juga mengajak seorang tamu lain, Soejatmiko, mantan wartawan Jawa Pos yang sekarang menjadi editor di tugumalang.id. “Sebenarnya, kunjungan tanggal 9 Februari 2021 yg bertepatan dengan Hari Pers, maupun sekarang yang  Hari Kartini, hanya kebetulan,” tutur Dr Aqua merendah.

Tapi bahwa revolusi komestik Wardah untuk mengambil peran emanisipasi di bidang ekonomi perempuan Indonesia yang dipelopori Ibu Nurhayati, ibunda Salman, menunjukkan wanita Indonesia bisa memilih medan perjuang yang beragam, untuk melanjutkan perjuangan Kartini.

Elemen Terpenting Bersilaturahim

Salman Subakat ternyata menyadari manfaatkan mengikuti aktivitas safari Ramadhan yang diprakarsai Dr Aqua Dwipayana ini. Ia diajak berkeliling Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk melakukan kegiatan tatap muka, berbicara dalam seminar daring, menemui pejabat, sampai hal yang terkadang remeh dan tak penting; berkunjung ke rumah orang biasa.

Tak ada yang sia-sia. Ada yang membahas isu atau informasi penting, tapi ada juga yang ngomong-ngomong biasa. Tapi meskipun terlihat sederhana dan biasa, selalu muncul inspirasi baru dalam setiap obrolan. Bahkan tidak jarang, hal-hal  yang luar biasa, muncul dalam pertemuan dengan orang-orang biasa ini.

Oleh karena itu Dr Aqua yakin, rumah harus menjadi elemen terpenting dalam bersilaturahim. Jangan tinggalkan peran rumah, mengganti peran gadget atau kafe.
Di bulan puasa ini tak ada salahnya kita mengikuti sunnah rasulullah yang sangat menganjukan kunjungan ke rumah. Beliau sendiri melakukan hal itu secara rutin.

Pernah ada istri sahabat mengeluh, karena setiap kunjungan selalu membuatnya repot membuat makanan dan minuman. Tapi sahabat itu kemudian menjelaskan, coba nanti kau lihat apa yang terjadi saat seorang tamu pergi. Binatang-binatang rumah seperti cecak, tikus, kalajengking ikut pergi. Dan di saat yang sama, rejeki dan kebahagiaan akan datang menyelimuti rumahmu. Ini berarti kunjungan ke rumah bisa membebaskan rumah itu dari yang jahat, yang tidak baik, dan menggantinya dengan sesuatu yang bermanfaat.

Itulah sebabnya mengapa Dr Aqua tidak setengah-setengah dalam mempraktikkan kunjungan dari rumah ke rumah.

Rumahnya yang di Yogyakarta sudah seperti rumah semua orang. Siapa saja bisa datang dan menempati kamar yang ada dengan gratis, bahkan disediakan sarapan dan mobil buat transportasi. Rumahnya yang di Bogor, tidak jarang menjadi rujukan mereka yang ingin mencari tempat sementara.

Dan ketika ada dua orang hebat duduk di kursi tamu rumah saya; Dr Aqua Dwipayana sang motivator nasional yang setiap hari bersilaturahim keliling Indonesia, dan Salman Subakat, anak muda berusia 40 yang produk komestiknya tersebar di hampir semua almari wanita Indonesia, saya menyadari bahwa tidak ada yang mustahil dari keajaiban silaturahim. Tidak salah: berkunjung ke rumah disebut sebagai puncak silaturahim!

Ali Salim, wartawan senior yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur
Ali Salim, wartawan senior yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur

Ali Salim, wartawan senior yang kini tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

  • Bagikan