SURABAYA, Tugujatim.id – Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya membuka suara usai kasus karangan bunga satire yang dibuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) viral.
Diketahui, karangan bunga satire untuk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran yang dibuat BEM FISIP Unair Surabaya viral di media sosial.
Karangan bunga tersebut dibuat oleh pengurus Kementerian Politik dan Strategis di bawah naungan BEM FISIP sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dalam mengawal Pemilu 2024.
Baca Juga: BEM FISIP Unair Surabaya Diintimidasi usai Bikin Karangan Bunga Satire
Usai karangan bunga tersebut viral, Ddekanat sempat membekukan pengurus BEM FISIP karena dinilai mengandung ujaran kebencian dan diksi-diksi yang dipilih tidak sesuai dengan marwah akademis.
Merespons hal tersebut, Rektor Unair Surabaya Mochammad Nasih mengatakan, dia tidak memberikan intimidasi terhadap dekanat karena putusan pembekuan menjadi tanggung jawab fakultas.
“Jadi kan kami nggak berbicara soal intervensi. Yang penting adalah bahwa kehidupan kampus ini berjalan sebagaimana mestinya. Karena BEM itu menjadi otoritas dan kewenangan ada di dekanat,” katanya saat ditanya Tugujatim.id, Senin (28/10/2024).
Pihak rektorat juga menyinggung tindakan BEM FISIP yang mengunggah foto karangan bunga tersebut ke akun media sosial @bemfisipunair sehingga menjadi viral. Sehingga, rektorat menilai mahasiswa membawa nama institusi kampus.
“Jangan campuradukkan antara kepentingan pendapat pribadi apalagi yang punya risiko. Karena dengan melibatkan institusi untuk hal yang sangat berisiko itu berarti yang bertanggung jawab juga semuanya,” ucapnya.
Ke depan, rektorat berkomitmen jika kampus tidak akan memberikan batasan kepada mahasiswanya untuk bersikap kritis. Asal menggunakan bahasa yang sesuai dengan koridor akademis dan tidak membawa nama institusi.
Baca Juga: Chery Siapkan Strategi Masuk Pasar Indonesia dengan Fokus MPV untuk Saingi Produk Jepang
“Tidak ada maksud untuk membatasi atau apa pun. Yang saya dengar dari Pak Dekan sesungguhnya persoalannya kan di satu saja. Kalau ada pendapat-pendapat yang sifatnya pribadi dan apalagi sifatnya sangat-sangat sensitif,” ujarnya.
Namun, Nasih meminta kepada mahasiswanya agar tidak membawa nama kampus Universitas Airlangga Surabaya jika melakukan kritikan yang bersifat individu.
“Mau ngomong apa saja tapi gunakanlah saluran-saluran yang semestinya, cara-cara yang semestinya. Jadi ngomong apa pun, mau misuh, mau apa-apa, sepanjang dia menggunakan saluran pribadi itu urusan mereka. Bukan urusan kampus,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








