MALANG, Tugujatim.id – KA Jayabaya jurusan Malang-Jakarta membawa saya, Dwi Lindawati, jurnalis difabel dari Tugujatim ID melalui perjalanan jarak jauh selama 12 jam pada Kamis (28/08/2025).
Untuk diketahui, catatan perjalanan saya ini atas undangan kegiatan perdana kick-off Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch II 2025 di Rumah Belajar TBIG Karawaci, Tangerang, Banten, Jakarta. Tentu, saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan undangan ini setelah melalui seleksi bertahap dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
JFC ialah kegiatan pelatihan jurnalistik Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan Tower Bersama Infrastucture (TBIG).
Bertolak dari Stasiun Malang Kota Baru, saya berkesempatan menjajal kemewahan naik KA Jayabaya eksekutif gerbong 4/1B menuju Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Kereta berangkat dari Malang, Kamis (28/08/2025), pukul 13.45 WIB, dengan tujuan menuju Stasiun Jatinegara yang dijadwalkan sampai pada Jumat (29/08/2025), pukul 01.46 WIB. Waktu tempuhnya sekira 840 Kilometer untuk sampai di sana.
Saat catatan keempat ini, saya sudah berada di dalam gerbong 4 KA Jayabaya. Awalnya, saya ditemani seorang penumpang laki-laki. Dia mempersilakan saya duduk di kursi 1A dekat jendela, sedangkan saya seharusnya duduk di 1B. Dia rela duduk di 1B dan membiarkan saya duduk di dekat jendela. Betapa beruntungnya saya bertemu dengan orang baik.

Kuatnya Tradisi dan Kebiasaan Warga Madura
Sayangnya, ketika kereta sudah sampai di Stasiun Gubeng Surabaya, saya dan penumpang laki-laki ini berpisah. Tiba-tiba ada penumpang lain yang dari kejauhan sudah melemparkan senyum manisnya di depan pintu kereta. Namanya Arini, 36, warga Jakarta.
Arini juga mempersilakan saya tetap duduk di kursi 1A. Sama seperti yang dilakukan penumpang sebelumnya kepada saya. Sekali lagi, saya kembali dapat keberuntungan.
Sebelum kami ngobrol panjang lebar, Arini sebelumnya melakukan perjalanan jauh dari Pamekasan naik bus hingga turun di wilayah Kedinding. Dia melanjutkan perjalanan naik Gojek sampai di Stasiun Gubeng.
Awalnya saya mengira barang bawaan Arini yang dominan snack ini akan dijual lagi. Tampak berat dan banyak, ada sekitar dua kantong besar yang dibawa.
BACA JUGA: Doa Ibu Iringi Perjalanan ke Jakarta, Sempat Bingung Pilih Pintu Masuk Stasiun Malang (1)
Kami saling ngobrol gayeng. Arini mengungkapkan bahwa snack yang dia bawa ini adalah oleh-oleh untuk keluarganya saat mudik ke Jakarta. Dia mengungkapkan, ada kebiasaan warga Pamekasan Madura kalau mendengar ada tetangganya ingin bepergian, maka mereka akan berbondong-bondong membawakan oleh-oleh.
“Saking karena sungkannya, kadang saya tidak bilang kalau mau mudik, takut merepotkan tetangga karena dibawakan banyak oleh-oleh,” katanya.

Inilah salah satu kebiasaan yang dijunjung kuat warga Madura untuk mempererat nilai tali silaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan bahkan orang yang baru dikenal. Selain itu, ada juga budaya atau karakter warga Madura dalam menghargai tamu. Bagi mereka, tamu dianggap sebagai rezeki dan keberkahan sehingga disambut dengan baik dan diberi kesempatan untuk berbagi.
Adat dan tradisi ini pun diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga identitas budaya agar tidak punah oleh perkembangan zaman. Hal ini pun dibenarkan oleh salah satu warga Sumenep Madura yang tidak mau disebutkan namanya, tinggal di Kota Malang, yang sempat saya wawancara.
Salah satu warga Sumenep ini mengatakan, orang Madura tidak mau keluarganya kelaparan dalam perjalanan atau saat bepergian.
BACA JUGA: Nyaman Naik KA Jayabaya Malang-Jakarta, Perjalanan Bak Traveling Dapat Keberuntungan Berkali-kali (3)
“Iya benar, ada kebiasaan jika mendengar kerabat atau tetangganya mau bepergian. Kebiasaan warga Madura akan membawakan banyak oleh-oleh. Mereka tidak mau keluarganya merasa kelaparan di perjalanan,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, setiap perjalanan bagi orang Madura disebut pelayaran. Dia melanjutkan, naik bus saja ke Jawa disebut berlayar karena transportasi pertama di Madura adalah perahu.
“Makanya, kalau menyeberang laut harus membawa banyak bekal,” tutupnya.
Menguatkan tradisi ini, Herlianto A., warga Masalembu Madura, juga mengungkapkan hal yang sama. Herli, sapaan akrabnya, mengatakan, ada tradisi seperti ini ketika bepergian untuk membangun hubungan tali silaturahmi.
“Ya, memang ada tradisi seperti itu, Mbak. Itu bagian dari mempererat hubungan dengan orang yang mau bepergian. Kemudian, juga memberikan bekal,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, warga Madura masih ada kebiasaan pamitan dengan orang tua dengan cara berjalan merangkak di bawah kaki ibu jika merantau jauh.
“Jadi ibuk membuka kaki. Terus anaknya lewat di bawahnya dengan merangkak (mbrowot dalam istilah bahasa Jawa),” katanya.
Ya, karena itu, wajar jika Arini tampak banyak membawa perbekalan dari Pamekasan menuju Jakarta. Isinya pun lengkap, ada beras, bawang merah, bekal makanan, hingga berbagai snack.
Rezeki Tak Selalu Berupa Uang, Ketemu Penumpang Baik Itu Rezeki Tak Ternilai
Oiyah, di antara obrolan random kami, ada hal lain yang begitu menarik perhatian. Ternyata rezeki itu tidak selalu berupa uang, bertemu dengan penumpang yang baik seperti Arini itu sudah tidak ternilai harganya. Saya pun mengawali obrolan serius waktu itu, mengaku jadi salah satu pejuang restu.
“Jangan salah. Saya ini juga mantan pejuang restu. Ibu saya saja tidak mengetahui kami (pasangan Arini, Red) sudah menikah. Hanya ayah saya yang tahu karena menjadi walinya,” ujar Arini tampak tegar.
Saya terkaget dengan pernyataannya antara percaya dan tidak. Sebab, bagaimana bisa seorang anak menikah tanpa ibunya mengetahuinya. Kisah seperti ini saya kira hanya ada di sinetron-sinetron saja, tapi ternyata terjadi di dunia nyata.
Ibu muda tiga anak ini pun menceritakan awal mula dia bertemu dengan sang suami yang berasal dari Pamekasan. Singkat cerita, suaminya yang kini berprofesi sebagai dosen di Jawa Timur ini dulu sempat membatalkan pertunangan dengan Arini.
BACA JUGA: Nikmati Vibes ‘Bandara’ Stasiun Malang, Naik KA Jayabaya Lewati Skybridge Estetik (2)
Berpisah selama dua tahun tidak ada komunikasi, tapi ternyata jodoh mempertemukan mereka kembali hingga akhirnya menikah secara diam-diam tanpa diketahui ibunya. Saat itu, ibunya tidak merestui.
Tidak ada resepsi maupun mengumpulkan saudara sekadar membagikan kebahagiaan. Bahkan, foto keluarga saja tidak ada saat mereka menikah.
Usai menikah, mereka memutuskan untuk kontrak rumah. Padahal, kontrakan dan rumah orang tuanya berdekatan. Tapi, Arini berhasil menyembunyikan pernikahan itu dari ibunya hingga akhirnya semua terungkap.
“Ibu saat itu datang ke kontrakan usai satu tahun menikah. Tiba-tiba Ibu mendengar suara tangisan bayi karena saya baru melahirkan,” ujarnya sambil mengingat kejadian itu.
Tidak terima, ibunya merasa kecewa, marah, dan merasa hancur. Tapi, lambat laun perjuangan Arini dan suaminya berbuah manis. Ibunya akhirnya menyetujui hubungan mereka.
Arini juga memberikan pesan kepada saya. Carilah suami yang memperhatikan ibunya.
“Bagaimanapun juga, seorang laki-laki akan mencari pasangan hidup layaknya ibunya. Kalau seperti itu, pertahankan,” tegasnya.
Dapat Kabar Viral Ojol Dilindas Rantis di Jakarta
Tidak terasa obrolan kami begitu panjang, perjalanan ke Jakarta tidak terasa sudah kurang satu jam lagi. Saya sempatkan melihat media sosial sebentar. Ternyata ada berita viral yang terjadi di Jakarta.
Tengah malam, seorang ojol diduga dilindas oleh mobil rantis saat aksi demo di sekitar gedung DPR di Jakarta. Sontak, berita ini viral hingga membuat Arini bereaksi.
“Ya Allah, kasihannya tukang ojolnya. Kejadiannya di dekat Pasar Senen ini,” ujarnya.
Panik, Arini sempat menanyakan kondisi di grup WA keluarga besarnya. Info di media sosial dibenarkan oleh keluarganya hingga ada info valid di dalamnya.
Arini terus berkomunikasi dengan keluarganya meng-update kondisi terkini. Sepertinya dia akan mengubah pemberhentian di stasiun lain. Padahal sebelumnya, dia mengajak saya untuk turun di Stasiun Pasar Senen agar bisa berbarengan.
“Nggak tahu kenapa, saya kalau bertemu orang itu bawakannya pengen melindungi. Gimana kalau Mbak Linda turun di Pasar Senen saja biar bisa bareng sama saya,” ujarnya tampak khawatir.
Saya menolak tawaran itu dengan halus. Bukannya tidak mau, tapi rencana perjalanan saya sudah dirancang oleh tim Sekretariat Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Amelia Assalavi. Bahkan, Amel, sapaan akrabnya, menyampaikan jelang kedatangan di Stasiun Jatinegara akan dijemput tim TBIG, namanya Revfath Rizqon.
Ternyata keluarga Arini menyarankan dia untuk turun di Stasiun Jatinegara. Sebab, massa ojol sudah berada di kantor Brimob, tepatnya di dekat Stasiun Pasar Senen. Mereka bereaksi atas insiden ojol dilindas saat terjadi demo di Jakarta.
Agar dalam kondisi yang aman, Arini memutuskan untuk memakai fasilitas mengirimkan pesan singkat ke kondektur di KA Jayabaya untuk mengubah tujuannya. “Pak, apa saya bisa turun di Stasiun Jatinegara karena di Pasar Senen ada insiden?” tulisnya di pesan singkat.
Kondektur membalas pesan Arini diperbolehkan turun di Stasiun Jatinegara karena dalam kondisi darurat. Awalnya perjalanan kami akan terpisah antara dua stasiun yang berbeda. Allah masih memberikan kesempatan saya dan Arini bersama-sama turun di Stasiun Jatinegara dengan selamat.
Untuk diketahui, perjalanan dan pengalaman saya ke Jakarta menggunakan KA Jayabaya kali ini berkat program Journalism Fellowship on CSR 2025 atau JFC 2025 Batch 2 bermitra dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan ini bergerak untuk menyewakan menara telekomunikasi, penyediaan sistem sinyal nirkabel seperti distributed antenna system (DAS), dan lain-lainnya.
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan isu CSR bersama TBIG ini menjadi bagian pelatihan karena memiliki kepentingan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Hal ini sesuai tagline yang disampaikan Chief of Business Support Offcer PT Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG) Lie Sie An maju “Bersama untuk Indonesia”.
Kick off JFC Batch 2 berlangsung di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Jakarta, Jumat (29/08/2025). JFC berlangsung selama sebulan mulai 1 September-8 Oktober 2025 dengan melibatkan 13 wartawan se-Indonesia sebagai peserta. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Dwi Lindawati
Editor: Darmadi Sasongko








