TUBAN, Tugujatim.id – Setelah enam tahun tanpa gaung, ritual siraman waranggono akhirnya kembali digelar di kawasan wisata Pemandian Bektiharjo, Kabupaten Tuban, Jatim, Rabu (10/12/2025). Suasana sakral terasa sejak rombongan waranggono, baik para senior maupun generasi mudanya—berjalan memasuki area pemandian dengan iringan gamelan Jawa yang lembut.
Rangkaian dimulai dari kirab hasil bumi, lalu dilanjutkan dengan prosesi utama: penyiraman sembilan waranggono menggunakan air dari tujuh mata air yang sebelumnya telah dihimpun dalam satu wadah. Salah satu sumber air berasal dari mata air Bektiharjo sendiri yang dianggap memiliki nilai historis bagi ritual ini.
Baca Juga: Wisata Kayangan Api Bojonegoro, Punya Fenomena Mistik Hingga Peran di Dunia Modern!
Di bawah rimbun pepohonan dan bebunyian gamelan, prosesi penyiraman berlangsung khidmat. Para waranggono, khususnya generasi muda, disiram sebagai simbol pembersihan diri dan harapan agar profesi mereka tetap lancar, langgeng, dan membawa keberkahan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Tuban M. Emawan Putra menyebutkan, prosesi siraman waranggono terakhir digelar sekitar 2018 atau 2019. Dia mengatakan, kini tradisi yang sempat terhenti tersebut dihidupkan kembali dengan standar baru.
“Ini merupakan ritual bermunajat agar dihindarkan dari marabahaya dan diberikan anugerah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” jelasnya.

Emawan menegaskan, pembenahan pola pelaksanaan menjadi fokus utama agar siraman benar-benar kembali pada pakem dan nilai sakralnya. Ketika penyelenggaraan sudah tertib dan sesuai tradisi, dia optimis ritual ini memiliki daya tarik wisata yang kuat.
Dalam penjelasannya, Emawan juga mengungkapkan bahwa Waranggono, Langen Tayub, atau Sindir/Lang Tayi belum mendapatkan status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Kebudayaan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya literasi dan pengenalan tentang ciri khas kesenian Tuban kepada para juri.
“Ciri khas Tuban itu harus kami tonjolkan. Mungkin itu yang belum terbaca para juri,” ujarnya.

Dia meminta seluruh pegiat seni untuk bersama memperkuat referensi dan identitas kesenian lokal agar layak diusulkan kembali sebagai WBTB.
Selain itu, Emawan menekankan perlunya menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada pagelaran seni tayub. Menurut dia, waranggono harus dipandang sebagai subjek seni, bukan objek hiburan semata.
“Mereka ini ibarat diva. Harus kami muliakan,” tegasnya.
Dia juga meminta agar praktik-praktik yang memberi kesan negatif di sekitar pagelaran, misalnya aktivitas non-seni yang tidak relevan dan dihilangkan total.

Hidupnya kembali siraman waranggono ini menjadi momentum penting bagi pelestarian seni tradisi Tuban. Selain menghadirkan seluruh waranggono asli Tuban, prosesi ini fokus memperkuat filosofi awal tradisi: memohon berkah, keselamatan, dan pembersihan diri.
“Ini kami jadikan role model agar setiap ritual budaya tetap memiliki nilai sakral. Bukan untuk guyonan, tapi serius memohon perlindungan kepada Allah SWT,” tandas Emawan.
Dengan komitmen memperkuat komunitas seni, memperbaiki stigma, dan membangun regenerasi, siraman waranggono kini bukan sekadar ritual tahunan—tetapi langkah besar menjaga martabat dan warisan budaya Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








