Sex Education Juga Perlu untuk Siswa Difabel

Sex Education Juga Perlu untuk Siswa Difabel

  • Bagikan
Ilustrasi seorang difabel yang sedang mendapat pengarahan tertentu dari mentornya/tugu jatim
Ilustrasi seorang difabel yang sedang mendapat pengarahan tertentu dari mentornya. (Foto: Pexels)

Tugujatim.id –  Sejak tahun 2020, New York Times (NYT) mengatakan kejahatan seksual yang dialami wanita difabel mencapai 79 persen. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan seks (sex education) perlu diajarkan untuk siswa spesial tersebut. Di laman NYT mengatakan beberapa siswa difabel setidaknya mendapatkan perilaku tidak senonoh oleh temannya yang non difabel.

Hingga kini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa upaya tertentu belum efektif mengurangi kehamilan di luar nikah pada remaja. Michael A, seorang pelatih utama dan pendidik kesehatan senior di Health Connected di Nirlaba, menyatakan dalam Teenvogue bahwa anak-anak spesial seringkali tidak di prioritaskan kesehatan dan keamanan mentalnya. Hal ini karena pendidik lebih fokus pada aspek kesejahteraan dalam diri anak.

Dia mengatakan bahwa seks dan disabilitas merupakan dua hal yang berbeda. Bukan berarti mereka yang difabel tidak memiliki hasrat pada seks. Pengetahuan ini dapat diajarkan saat anak mendekati masa transisi pertumbuhan dari sekolah menengah ke dewasa. Sekolah-sekolah di 9 negara telah memasukkannya dalam kurikulum, dan memudahkan pengemasannya saat disampaikan kepada siswa di sekolah.

Untuk mengurangi keresahan mengenai kekerasan seksual, sejak 2017 pemerintah Inggris memberlakukan undang-undang “pendidikan hubungan dan seksualitas”. Undang-undang ini diberlakukan di semua sekolah menengah.

Dimulai dari kelas 6 Sekolah Dasar diajarkan tentang ‘hubungan yang sehat’ dan membangun persahabatan serta empati. Siswa di atas usia itu pembahasannya mulai mencakup hubungan sehat dan tidak sehat, LGBTQ, stereotip gender, pelecehan dan keamanan media sosial.

Di Inggris mandat ini mencakup siswa pendidikan khusus untuk mendorong mereka memahami topik pada ‘kurikulum spiral’ dalam memahami bahasa “tidur bersama”. Bahasa yang cenderung membingungkan bagi anak-anak penyandang autis. Pendidik juga mengedepankan pengalaman belajar, yaitu berkunjung ke klinik kesehatan dan belajar untuk dapat mengatakan “tidak” di waktu yang tepat.

Sementara itu, Lori Maurer menuliskan dalam parenting for special needs, pendidikan seksual ini sepatutnya diajarkan dari rumah dan oleh orang tua langsung. Karena orangtua yang paling mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan anak.  Cara mengajarkannya dapat melalui singgungan topik saat berbicara intens antara orangtua (ibu) dan anak. Internet juga bisa menjadi jembatan dalam mengajarkan anaknya sebelum mendapatkan pelajaran di sekolah.

Berbeda dengan anak-anak autis dan down sindrom, mereka lebih dulu dikenalkan pada ciri sentuhan yang condong pada pelecehan seksual. Film-film remaja kini juga mulai memberi esensi pendidikan seksual, ini bisa menjadi alternatif saat orang tua merasa kaku untuk mengajak si anak berdiskusi. Saat menonton film bersama, di situ orangtua dapat memberi penjelasan mengenai hal yang baik dan buruk sesuai dengan adegan yang ditayangkan.

Ms. McGovern, seorang ibu dari anak mengidap autis menyesalkan telah mengabaikan pendidikan ini pada anaknya. Kini anaknya tumbuh dewasa dengan banyak hal di luar yang masih belum diketahui.

Ibu ini juga mengungkapkan bahwa dia terlalu fokus memikirkan bagaimana anaknya bekerja saat dewasa nanti. Padahal anak perlu mengetahui bahwa tidak semua orang di luar sana itu baik. Maka diperlukan peran guru dalam mengenalkan anak cara menghadapi kehidupan di luar rumah dan sekolah yang tidak pernah terduga.

  • Bagikan