MALANG, Tugujatim.id – Fraksi Nasdem-PSI DPRD Kota Malang menerima audiensi sopir angkot soal penolakan rencana operasional bus Trans Jatim pada Jumat (12/09/2025). Para sopir angkot di Malang juga menuntut kesejahteraan dan dampak positif dari operasional bus Trans Jatim.
Rencana operasional bus Trans Jatim di Kota Malang semakin dimatangkan. Tapi, sopir angkot di Malang memunculkan aspirasi penolakan operasionalnya. Solusinya, DPRD Kota Malang mendorong operasional bus Trans Jatim juga berdampak positif bagi kesejahteraan para sopir angkot.
Ketua Fraksi Nasdem-PSI DPRD Kota Malang Dito Arief Nurakhmadi mengatakan, masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidup jadi sopir angkot. Karena itu, dia mengatakan, harapannya operasional bus Trans Jatim tidak mematikan ekonomi sopir angkot di Malang.
Baca Juga: Dok! DPRD Kota Malang Setujui Rancangan Perubahan APBD 2025
“Informasi dari dishub tidak ada penolakan dari para sopir angkot. Kami baru saja menerima audiensi dari Forum Komunikasi Paguyuban Angkot Malang, ternyata masih ada penolakan,” kata Dito, Jumat (12/09/2025).
Dia menilai penolakan sejumlah sopir angkot di Malang karena tidak dilibatkan dalam komunikasi rencana operasional Trans Jatim. Bahkan, mereka mengaku tidak ada sosialisasi. Bagaimanapun, operasional bus Trans Jatim potensi menurunkan jumlah sopir angkot.
“Total ada 21 jalur, yang aktif 17, tapi yang hadir itu ketua dari 6 jalur. Mereka masih minta diajak komunikasi. Mereka belum punya gambaran soal skema, jalur, dan lain sebagainya. Mereka minta ada kajian terkait trayek Trans Jatim,” urainya.
Ada Sinergi Bus Trans Jatim, Angkot, dan Bus Sekolah
Dia juga menegaskan, pada dasarnya ada dukungan untuk operasional Trans Jatim di Kota Malang. Namun, dia juga berharap transformasi angkutan publik di Malang juga benar-benar berdampak positif bagi masyarakat luas, termasuk para sopir angkot.
“Kami dukung Trans Jatim, tapi jangan sampai itu berdampak negatif ke sopir angkot. Bagaimanapun masih ada sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan mengemudikan angkot,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Fraksi Nasdem PSI DPRD Kota Malang Donny Victorius menambahkan, kondisi sopir angkot cukup memprihatinkan. Mulai terpinggirkan, bahkan dihadapkan dengan persaingan dengan transportasi online.
“Mereka sudah tergerus transportasi online. Kalau Trans Jatim kan kebijakan pemda. Jadi, setidaknya angkot ini perlu dilibatkan. Di daerah lain, angkot dilibatkan sebagai pengelola, feeder, dan bagian dari feeder itu sendiri. Angkot dikonversikan menjadi feeder seperti Surabaya dan Jakarta,” sambungnya.
Sebagai opsi solusi, dia usul bahwa angkot di Malang juga bisa menjadi angkutan gratis bagi pelajar. Hal ini juga perlu dipertimbangkan meski Kota Malang juga sudah punya bus sekolah gratis.
“Artinya antara Trans Jatim, angkot, dan bus sekolah bisa saling berkolaborasi tidak justru saling mematikan atau bahkan membunuh perlahan,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Sholeh
Editor: Dwi Lindawati








