JEMBER, Tugujatim.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jatim, ini berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Operasional SPPG di Jember berhenti akibat dana tidak kunjung cair.
Kepala SPPG Desa Sumberejo Dimas Widia Adi Nugroho menjelaskan, hambatan pembiayaan diduga berkaitan dengan kondisi akhir periode anggaran. Dia menyampaikan informasi bahwa alokasi dana diperkirakan akan tersedia kembali saat memasuki tahun anggaran baru, tepatnya di awal 2026.
Baca Juga: SPPG Jember Dilarang Pakai Gas Subsidi, Hiswana Migas Ancam Inspeksi Mendadak
“Persoalan utamanya terletak pada pembiayaan, kemungkinan terkait penutupan tahun fiskal dan menipisnya alokasi anggaran. Kabar yang kami terima, pencairan akan dilakukan awal tahun mendatang,” ungkap Dimas saat dikonfirmasi pada Kamis (18/12/2025).
Menurut dia, ini merupakan pengalaman pertama menghadapi keterlambatan dana sejak fasilitas tersebut mulai beroperasi pada 10 November 2025. Dimas juga mengungkapkan bahwa permasalahan serupa juga menimpa berbagai lokasi lainnya di sejumlah wilayah yang tersebar di Kabupaten Jember.
“Ini kali pertama kami alami sejak operasional dimulai dua bulan lalu. Saat ini banyak dapur serupa mengalami nasib sama, ada di wilayah Mumbulsari, Gumukmas, bahkan sampai Lumajang. Kami yakin ini hanya bersifat sementara,” tuturnya.
Distribusi Masa Libur Diformat Berbeda
Dimas mengaku belum memiliki kepastian mengenai penyebab pasti tertundanya aliran dana SPPG di Jember. Dia menduga kemungkinan berkaitan dengan periode libur pelajaran menjelang perayaan akhir tahun atau faktor akademis lainnya.
Terkait masa libur, dia menjelaskan bahwa distribusi tetap akan dilakukan namun dengan format berbeda.
“Untuk periode libur nanti akan disediakan paket makanan kering dengan persetujuan pihak institusi pendidikan dan orang tua siswa yang akan mengambilnya sendiri,” paparnya.
Setiap harinya, fasilitas di Sumberejo ini biasanya menyalurkan paket makanan untuk 2.455 penerima manfaat ke berbagai institusi pendidikan di sekitarnya.
“Soal mekanisme pencairan dana, kami tidak begitu paham prosesnya. Kadang cepat, kadang memakan waktu. Yang pasti begitu dana tersedia, kami langsung melaksanakan program,” jelasnya.
Dampak dari tertundanya pembiayaan ini cukup signifikan, sebanyak 47 tenaga kerja sukarela terpaksa dirumahkan sejak 17 Desember 2025.
“Para pekerja kami liburkan karena tidak ada bahan mentah yang bisa diolah. Untuk pengadaan bahan juga memerlukan dana. Totalnya ada 50 orang termasuk saya, staf keuangan, dan tenaga ahli nutrisi,” terang Dimas.
Yang menjadi perhatian, di lokasi tersebut masih tersisa beberapa bahan makanan mentah yang belum sempat diproses. Untuk menghindari pemborosan, Dimas berinisiatif membagikannya kepada para pekerja sukarela.
“Kemarin masih ada sisa persediaan, terutama sayuran. Daripada terbuang percuma, lebih baik kami distribusikan ke para relawan,” ungkapnya.
Menghadapi situasi ini, Dimas berharap agar pemerintah segera mengalirkan anggaran yang tertunda sehingga operasional layanan dapat kembali berjalan normal melayani ribuan penerima manfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








