News  

Sulit Cari Kerja, Kisah Pemuda asal Tuban Lulusan Administrasi UNY Banting Setir Jadi Pengusaha Ayam Petelur

Pemuda asal Tuban. (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 
Mirza Ali, pemuda asal Desa Pakel, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, ini tampak sibuk menyortir telur ayam yang dihasilkan dari kandangnya pada Jumat (19/08/2022). (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 

TUBAN, Tugujatim.id – Kesulitan mencari pekerjaan ternyata bukanlah sesuatu yang buruk bagi Mirza Ali, 25, warga Desa Pakel, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Justru berawal dari kesulitan mencari pekerjaan, pemuda asal Tuban itu kini malah jadi peternak ayam yang sukses hingga bisa mengembangkan usahanya. Seperti apa lika-liku perjalannya dalam membangun bisnis ini?

Mirza, sapaan akrabnya, terlihat tengah sibuk menyortir telur ayam yang diambilnya langsung dari kandang miliknya di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban. Telur dengan kualitas baik dibedakan dengan hasil telur lainnya.

Ya, aktivitas seperti ini sudah sering dia lakukan. Bahkan, setiap hari tak kurang dari 350 kilogram telur dihasilkan dari 6.500 ekor ayam ternak miliknya.

“Ya, kalau saya setiap hari gak ke sini, Mas. Ada yang membantu saya mengurus, dua orang,” ujar pemuda asal Tuban ini kepada Tugu Jatim pada Jumat (19/08/2022).

Dengan kondisi telur yang harganya lumayan pada beberapa pekan terakhir ini, Mirza mengaku bisa sedikit tersenyum lebar karena keuntungan yang didapat. Kondisi ini hanya baru-baru kali ini terjadi.

Pemuda asal Tuban. (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 
Salah satu pekerja tampak memanen telur di kandang milik Mirza di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban. (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 

Sebab, beberapa bulan atau bahkan pada tahun sebelumnya harga telur pernah jeblok sampai Rp13 ribu per kilo dari peternak. Ditambah pula, harga pakan yang terus melambung tinggi.

“Alhamdulillah, dari kandang kami jual Rp27.500/kg. Di pasaran ya sampai harga Rp30 ribu–Rp31 ribu/kg,” terang pemuda yang masih lajang ini.

Sedangkan harga pakan sekarang sudah mencapai Rp7.300-Rp7.500 per kilo. Estimasi per ekor makannya 120 gram per hari. Dengan tingginya harga pangan, dia tidak bisa berbuat banyak. Walaupun beberapa komponen pengganti protein diganti dengan yang lain, tapi tetap bergantung pada pakan dari pabrik.

“Bisa disiati. Tapi, tetap tidak bisa meninggalkan pakan dari pabrik. Dulu harganya Rp17ribu–Rp18 ribu sudah untung, sebanding harga pakan Rp5.000/kg. Sekarang tidak memungkinkan. Pasti kolaps,” terangnya.

Pengusaha sukses ini menuturkan, harga telur sangat terpengaruh dengan harga yang di Blitar karena di sana sentralnya. Jika tidak, dampaknya sangat luar biasa. Sebab, jika kami jualnya lebih mahal dari sana, telur dari sana yang masuk ke Tuban.

“Kalau harga telur, tetap ada kesepakatan bersama. Selain itu, harus update harga di Blitar,” tutur pemuda asal Tuban ini.

Lulusan Jurusan Administrasi Negara Pilih Jadi Peternak Ayam Petelur

Memilih jadi pebisnis ayam petelur sebenarnya bukanlah pilihan dari Mirza. Hanya saja, karena pada 2020 bersamaan dengan pandemi Covid-19, dia kesulitan mencari pekerjaan. Kondisi ini yang menjadikannya memutar otak untuk bekerja.

Akhirnya dia memiliki ide menjadi peternak ayam petelur. Sembari belajar dari keluarga yang juga berbisnis telur ayam, membuatnya nekat untuk memulai usaha itu.

Pemuda asal Tuban. (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 
Mirza memantau telur-telur di kandang miliknya di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban. (Foto: Mochamad Abdurrochim/Tugu Jatim) 

Dia mengatakan, memiliki modal awal Rp400 juta untuk memulai membangun kandang dan mengisinya dengan sekitar 2.600 ekor ayam. Akhirnya sampai bisa berjalan selama tiga tahun ini dan bertambah menjadi 6.500 ekor ayam.

”Kalau modalnya sekitar Rp400 juta sampai ayam bisa bertelur dan telurnya dijual bisa untuk beli makan, makan ayam udah mandiri. Kalau bisa balik modal ya 2,5 tahun, itu kondisi normalnya,” terangnya.

Bagi dia, beternak ayam tidaklah sulit. Mirza mengatakan, meski tingkat kematian ayam bisa dikatakan tidak sampai 10 persen, tapi selama peternak teliti dalam proses pembesaran, maka tingkat kematian bisa ditekan.

“Kalau kami ngurusnya teliti, rapi, dan telaten, insyaa Allah ayam-ayamnya jadi kuat dan tahan lama. Dan sering kasih vitamin juga. Terutama pemberian vaksin pada ayam itu sangat penting,” tuturnya.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim