Tahu Lontong Lonceng, Menu Legendaris Malang yang Eksis hingga 86 Tahun - Tugujatim.id

Tahu Lontong Lonceng, Menu Legendaris Malang yang Eksis hingga 86 Tahun

  • Bagikan
Menggoyang lidah ketika Tahu Lontong Lonceng disajikan. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Menggoyang lidah ketika Tahu Lontong Lonceng disajikan. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Siapa sih yang tak kenal kuliner satu ini di Kota Malang, tahu lontong! Meski tampak sederhana, kudapan satu ini banyak dijumpai di berbagai tempat. Salah satunya, Tahu Lontong Lonceng di Jalan Martadinata No 66, Kota Malang.

Menariknya, kuliner satu ini terkenal legendaris sejak 1935 atau selama 86 tahun. Artinya, Tahu Lontong Lonceng ini sudah ada lebih dari 50 tahun yang lalu. Dan kini, dikelola oleh generasi keempat, sang cucu bernama Apriono.

Meski ukuran kedainya tak terlalu luas, tapi suasananya nyaman dan sejuk. Tempatnya juga bersih. Kedai sederhana ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB, bahkan hampir tak pernah sepi pengunjung.

Tahu Lontong Lonceng yang tetap eksis hingga 86 tahun karena memakai resep nenek moyang. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Tahu Lontong Lonceng yang tetap eksis hingga 86 tahun karena memakai resep nenek moyang. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

Ada tiga variasi menu yang dapat dipesan sesuai selera pengunjung. Selain tahu lontong biasa, ada tahu telor lontong dan tahu telor nasi.

Penyajiannya, tak jauh berbeda dengan tahu lontong dan tahu telur pada umumnya. Untuk tahu telur, tahu dicampur telur kemudian digoreng. Sedangkan untuk tahu lontong, berasal dari tahu yang digoreng kering.

Setelah itu, keduanya sama-sama disajikan dalam satu piring ditambah nasi ataupun lontong sebagai asupan karbohidrat. Sebagai pelengkapnya disiram bumbu kacang yang dicampur dengan kecap. Dan ditambah kecambah dan kerupuk. Wow, mantul banget!

Tak pernah sepi pengunjung, kudapan Tahu Lontong Lonceng bikin kangen. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Tak pernah sepi pengunjung, kudapan Tahu Lontong Lonceng bikin kangen. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

Dan yang membuat makanan ini lebih istimewa adalah cita rasa yang khas dari tahu dan bumbunya. Sebab, keduanya dibuat sendiri lewat resep dan racikan nenek moyang yang diwariskan turun temurun.

Farid Fatahillah, 23, salah seorang pembeli asal Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Malang, ini menyatakan, kuliner tersebut menjadi salah satu favorit dan diketahuinya sejak SD.

“Ini legend ya, saya SD saja sudah ada. Baunya dari luar sudah tercium uenak,” katanya.

Soal rasa, kuliner ini mengandalkan racikan bumbu yang enak. Rasa kacangnya terasa dan cenderung rasa manis. “Bumbunya fresh, pas pesan baru kami buatkan semuanya. Dominan rasa kacang, hmmm… enak. Ditambah nasi dan kerupuk, ini jadi kombinasi terbaik,” tandasnya. (fen/ln)

  • Bagikan