PASURUAN, Tugujatim.id – Semaun Prawiro Atmodjo adalah tokoh revolusioner muda yang pernah dianggap berbahaya oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sebagai seorang tokoh politik nasional, ternyata ia adalah warga dari Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.
Walaupun karir politiknya sangat dinamis, memori Warga Gunung Gangsir tentang keberadaannya dan keluarganya sangat berbeda dengan sejarah yang selama ini terdengar.
Tidak banyak media menceritakan soal tokoh revolusi Indonesia didikan H.O.S. Tjokro Aminoto selain Sukarno, padahal Semaun adalah salah satu anak didiknya juga yang ikut andil bagian dalam pergerakan nasional.
Masa Kecil Semaun di Gunung Gangsir
Semaun lahir di Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Tidak ditemukan alasan kepindahan keluarga Semaun ke Gunung Gangsir, Pasuruan. Namun warga sekitar memiliki cukup banyak memori tentang kehadiran keluarga Prawiro Atmojo di desa ini.

Semaun mengawali proses belajarnya di Tweede Klas, atau seringkali masyarakat jawa menyebutnya Sekolah Rakyat atau Sekolah Ongko Loro, yaitu konsep Pendidikan dasar buatan Belanda karena kebijakan Politik Etis yang mendasarkan pendidikannya untuk membaca, menulis serta berhitung bagi masyarakat Bumiputera.
Setelah dari Sekolah Rakyat, Semaun melanjutkan pendidikannya di Hollandse Indische School (HIS) di Surabaya pada usia 7 tahun, di sekolah ini Semaun juga belajar Bahasa Belanda.
Karena ia sangat cerdas, ia sempat lulus ujian “Klein Ambtenaar” atau ujian Pegawai Pamongpraja Rendah. Ia memulai karirnya sejak umur 13 tahun sebagai juru tulis Perusahaan Kereta Api Negara (Staats Spoor Maatschapi), di Surabaya sejak tahun 1912 karena keadaan orang tuanya tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya.
Media seringkali bercerita bahwa Semaun adalah tokoh pejuang revolusi yang berasal dari rakyat jelata hanya karena profesi ayahnya sebagai Pegawai Kereta Api Rendahan.
Kepala Desa Gununggangsir, Mohamad Yasin yang juga sejak lahir tinggal di Desa ini menceritakan soal memori masa kecilnya pernah menyaksikan kehadiran keluarga Semaun.

“Kalau disamakan dengan orang kampung, beliau ini orang kaya. Dahulu warga meyakini bahwa keluarga Raden Semaun adalah orang kaya karena rumahnya itu rumah tembok! Kalau warga kan rumahnya dari bambu. Ketika saya kecil, orang-orang antri di rumahnya untuk melihat televisi. Saya ingat betul Ketika masih kecil, setiap hari Sabtu malam Minggu pintu rumahnya dibuka dan warga sampai keluarga antri untuk menonton film “Jowo”, termasuk saya. Betul, saya ingat. Masa dia orang nggak mampu? Kalau dilihat dari barangnya, dulu orang tuanya sudah punya sepeda onthel, punya televisi dan bangunan rumahnya dari tembok. Bapak saya saja rumahnya dari bambu,” cerita Yasin kepada tugujatim.id, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan keterangan dari Yasin, maka tidak lagi menjadi hal yang mustahil bagi seorang anak berusia 13 tahun memiliki kemampuan baca tulis dan Bahasa Belanda hingga bisa menjadi juru tulis di perusahaan kereta api Surabaya.
Dalam ensiklopedia sejarah, Hollandse Indische School (HIS) adalah sekolah dasar untuk “priyayi” dan orang kaya. Status “priyayi” atau ningrat ini diyakini berasal dari ayahnya yaitu, Prawiro Atmodjo.
Yasin sempat bercerita bahwa keluarga Semaun adalah golongan ningrat. Dalam ceritanya beliau berkata,
“Orang dulu, kalau tidak keturunan darah biru tidak dipanggil “Raden”, keturunan dari keluarga Raden Semaun sampai sekarang masih dipanggil dengan sebutan “Jeng” dan “Raden”.”
Karir Politik Semaun
Semaun memulai karirnya di Surabaya. Sembari bekerja, ia tetap mengusahakan untuk belajar sehingga mencapai ijazah “Hollandsche Komis” atau Komis A, dan ia lanjutkan sampai “Komis C’’, sehingga kualitas Pendidikan yang ia tempuh setara harganya dengan lulusan Hoogere Burgerschool (HBS), yaitu sekolah menengah buatan Pemerintah Kolonial Belanda yang khusus untuk bangsa Eropa, Belanda dan Ningrat Pribumi.
Selama di Surabaya, beliau dididik langsung oleh H.O.S. Tjokro Aminoto, yang membuatnya memiliki ikhtiar dalam pergerakan nasional. Pada tahun 1913, tepatnya di usia 14 tahun ia diterima menjadi sekretaris Sarekat Islam (S.I) Surabaya, lalu dilanjutkan untuk pada 1916 menjadi Ketua Sarekat Islam Cabang Semarang. Ia memulai karir politiknya sebagai aktivis islam.
Sejak usia 16 tahun, Semaun muda mulai terpengaruh dengan ajaran sosialisme melalui tokoh bernama Sneevliet, Ketua Indische Sosiaal Democratische Verenigir (I.S.D.V). Akhirnya Semaun tertarik untuk masuk dalam I.S.D.V membersamai Sneevliet. Atas rasa kemanusiaan yang tinggi, Semaun tertarik dengan sikap ideologi sosialisme dalam memecahkan persoalan kerakyatan.
Ia aktif dalam berbagai pergerakan rakyat melawan pemerintah kolonial melalui kedua organisasi ini. Seperti mengadakan gerakan untuk menuntut dihapusnya pembedaan gaji antara pegawai kereta api golongan belanda dan Indonesia di Surabaya, demonstrasi “Caping Cekutuk” pada tahun 1918 di Semarang, inisiator gerakan pemogokan untuk menuntut pemerintah mencabut Pasal 153 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang selalu mengkriminalisasi gerakan-gerakan perlawanan dengan dalih membahayakan kepentingan umum, dan menjadi ketua Vereeniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (V.S.T.P) yaitu serikat buruh kereta api di Semarang.
Semaun adalah tokoh politik dengan pandangan yang keras dan lugas dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. Oleh karena pandangan politiknya dianggap membahayakan pemerintah Kolonial Belanda, Semaun ditangkap dan diasingkan Ke Timor, lalu putusan itu diubah bahwa Semaun harus meninggalkan tanah air.
Kepulangan dari Uni Soviet
Sekembalinya Semaun pada tahun 1957 setelah pengasingan, ia tidak lagi aktif dalam pergerakan nasional seperti sebelum pengasingannya. Setelah menetap lama di Uni Soviet, Semaun diberikan jabatan oleh Sukarno menjadi Wakil ketua Bapekan (Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara).
Semaun di masa tuanya hingga akhir hayat menghabiskan waktunya sebagai dosen mata kuliah ekonomi di Universitas Padjajaran. Akhir usianya, pulang ke rumah ayahnya di Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Ia meninggal dunia karena sakit pada 7 April 1971.
Melalui cerita Bapak Mohamad Yusuf, Kepala Desa Gunung Gangsir, ia ingat betul memori masa kecilnya tentang keluarga Semaun bahwa merupakan keturunan ningrat terpandang serta berkecukupan.
Hai ini mengingatkan kita bahwa kesadaran atas ketertindasan serta perangai untuk berjuang melawan penindasan adalah lahir dari pemikiran kaum intelektual.
Semaun tidak dapat kita pahami secara sederhana hanya sebagai orang dari golongan masyarakat rendah yang secara kebetulan pintar sehingga dipercaya oleh banyak orang untuk menginisiasi pergerakan.
Tetapi sebagai golongan ningrat Pribumi dengan intelektual yang mampu untuk mencari keuntungan pribadi, Semaun memilih untuk melawan akar penyebab penderitaan masyarakat yang tidak seberuntung dia. Paham sosialis yang dianutnya adalah atas dasar penderitaan rakyat yang sebelumnya tidak sadar untuk melawan imperialisme dan kolonialisme adalah fakta yang benar adanya dan harus kita contoh.
Selama hidup, Semaun tidak banyak melibatkan Gunung Gangsir sebagai tempatnya dalam merintis karir politik, tetapi Mohamad Yasin memastikan bahwa Semaun itu orang Gunung Gangsir adalah benar adanya,
“Keluarga dan bapak saya tau kok, kalau Raden Semaun meninggal di sini sekitar tahun 1971. Namun warga tidak menganggap Semaun sebagai seorang tokoh nasional, karena beliau tidak pernah terlibat dalam melakukan pengajaran ataupun membangun desanya. Pengakuan dari bapak saya, paling lama Raden Semaun datang ke desanya hanya satu bulan atau satu minggu. Setelah itu keluar lagi. Dulu Ketika meninggal, prosesi pemakamannya pakai senapan. Ini kata bapak saya ” ucapnya.
Makam Semaun terletak di Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Apabila pembaca ingin mengunjunginya, pembaca dapat mencari letak SMPN 1 Beji.
Pemakaman keluarga Semaun terletak di pemakaman Manggungrejo di seberang SMPN 1 Beji. Letak makamnya berada sekitar di depan gapura. Makam Semaun bersebelahan dengan makam istrinya yaitu Nyonya Valentina Semaun yang posisinya tidak jauh dari makam kedua orang tuanya yaitu Raden Prawiro Atmodjo dan Raden Ajeng Prawiro Atmodjo.
Sedangkan rumah Semaun sekarang telah dijual kepada orang lain dan dialihfungsikan menjadi pertokoan, namun tidak menghilangkan bentuk asli bangunan Belanda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Gloria Puspa Wardhana/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








