MOJOKERTO, Tugujatim.id – Penyebab dugaan keracunan massal makanan program MBG terhadap 411 pelajar di Mojokerto mulai terkuak. Hal ini berdasarkan upaya penelusuran intensif dari pemerintah daerah setempat beserta jajaran terkait untuk mendalami penyebab utama insiden ini.
Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa menyebutkan bahwa pihaknya menyoroti telur rebus pada menu soto ayam. Dari informasi yang dihimpun, menu soto ayam menjadi makanan yang diduga menjadi penyebab utama ratusan pelajar di Mojokerto keracunan massal dengan mengalami mual, muntah, hingga kepala pusing.
Baca Juga: Buntut Dugaan Keracunan Massal, Komnas PA Jatim Desak Audit Total SPPG di Mojokerto Raya
Sementara, telur rebus pada menu soto ayam tersebut diduga kurang higienis. Ternyata, hal ini berdampak tidak hanya untuk pelajar, namun juga siapa saja yang menyantap makanan tersebut.
“Ada korban yang hanya mencicipi telur itu saja. Kan, menu soto ayam, tinggal telur lalu ada orang dewasa yang makan. Jadi siapa saja yang memakan telur itu ikut menjadi korban,” urai Bupati Albaraa.
Dugaan Telur Kurang Higienis
Dia menyebut, telur yang diduga kurang higienis disebabkan oleh beberapa sebab, seperti proses pengolahan maupun cara penyimpanan.
“Bisa juga karena cara menyimpan (telur rebus). Suhu minus lima untuk menyimpan telur agar awet. Nah, kami waktu mengecek ke lokasi, kurang dari (minus lima) itu,” jelasnya.
Dari sisi kasus, lonjakan keluhan korban terjadi secara bertahap. Pada 11 Januari tercatat 260 pasien, meningkat menjadi 384 pasien pada 12 Januari, kemudian 404 pasien pada 13 Januari. Pada 14 Januari terdapat tambahan 7 pasien sehingga total kumulatif mencapai 411 orang.
Baca Juga: Menteri HAM Minta Evaluasi Menyeluruh Soal Kasus Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto
Dia menegaskan, per 14 Januari, pemerintah daerah menutup penerimaan pasien baru dengan gejala serupa karena masa inkubasi medis telah dinyatakan berakhir.
“Dari total 411 pasien, sebanyak 334 orang telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, sementara 77 pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” tutur Bupati Albarraa.
Pemkab Mojokerto juga menjamin seluruh biaya pengobatan korban yang merupakan warga Kabupaten Mojokerto melalui program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas. Sementara itu, untuk santri dari luar daerah seperti Sidoarjo dan Jombang, koordinasi pembiayaan akan diteruskan kepada BGN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








