JEMBER, Tugujatim.id – Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) terkadang bikin cemas pelajar di tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi (PT).)
Bahkan, tak jarang pelajar yang mengkhawatirkan nilai TKA yang tidak memuaskan dapat mempengaruhi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Seperti pelajar tingkat akhir SMA, SMK, dan MA di Banyuwangi menyusul pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar November tahun lalu.
Banyak dari mereka merasa hasil tes tidak memuaskan dan bertanya-tanya apakah angka tersebut akan mempengaruhi peluang lolos jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Keresahan ini terungkap saat tim dari Universitas Jember (UNEJ) hadir dalam pameran pendidikan yang digelar oleh forum guru BK Banyuwangi di GOR Tawang Alun pada pertengahan Januari ini.
Arief Budi Utomo dari bagian hubungan masyarakat UNEJ mengamati bahwa pertanyaan seputar pengaruh TKA terhadap SNBP mendominasi diskusi dengan para calon mahasiswa.
Menjawab kegundahan tersebut, pihak kampus memberikan penjelasan yang melegakan. Menurutnya, TKA dirancang sebagai alat ukur standar nasional untuk mencatat pencapaian belajar siswa, bukan sebagai penentu tunggal kelulusan seleksi perguruan tinggi.
Instrumen ini dikembangkan Pusat Asesmen Pendidikan untuk mengatasi kesenjangan standar penilaian antar sekolah yang selama ini hanya mengandalkan rapor.
“Pemerintah menghadirkan TKA sebagai pengganti Ujian Nasional yang sudah dihapus. Untuk siswa menengah pelaksanaannya sudah tuntas November lalu, sedangkan siswa SD dan SMP akan menyusul April mendatang,” papar Arief, Rabu (14/1/2026).
Yang menarik, ia menegaskan bahwa TKA bersifat opsional dan sama sekali bukan persyaratan kelulusan. Dalam konteks seleksi SNBP, hasil TKA juga tidak berfungsi sebagai satu-satunya kriteria penerimaan.
Arief menjelaskan bahwa tanpa adanya TKA, sistem seleksi yang semata bergantung pada nilai rapor berpotensi tidak adil mengingat setiap sekolah memiliki standar berbeda. Sebagaimana tertulis di situs resmi Kementerian Pendidikan, TKA bersifat sukarela dan hasilnya digunakan sebagai data tambahan tentang capaian akademik melalui pengukuran yang seragam.
Ia mendorong para siswa untuk tidak terjebak dalam kecemasan berlebihan dan lebih baik mengalokasikan energi untuk persiapan optimal. Menurutnya, materi TKA sebenarnya mengukur kompetensi fundamental yang dapat dikuasai semua siswa dengan latihan memadai.
“Kuncinya adalah konsistensi belajar. TKA menguji kemampuan akademik mendasar, dan dengan strategi belajar yang tepat, semua siswa mampu meraih hasil maksimal,” tambahnya.
Di sisi lain, Eko Budi Sentoso selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi untuk wilayah Banyuwangi menyatakan bahwa pameran pendidikan ini sengaja dihadirkan untuk menyalurkan informasi akurat kepada siswa tentang dunia kampus dan mekanisme seleksinya.
“Tujuan kami memastikan siswa mendapat penjelasan langsung dari sumbernya, sehingga tidak mudah percaya rumor atau berita simpang siur yang belum tentu faktual,” ujarnya saat membuka acara tersebut.
Antusiasme peserta pun tinggi. Delia Cahya Anggun Prasasti dari SMAN 1 Banyuwangi mengaku mendapat pencerahan dari kegiatan ini. Siswi yang menargetkan Fakultas Farmasi itu merasa lebih tenang setelah memahami fungsi sebenarnya dari TKA.
“Penjelasan dari pihak UNEJ sangat membantu. Sekarang kami lebih memahami posisi TKA dalam SNBP. Jadi bisa lebih rileks dan fokus mempersiapkan diri sesuai kapasitas masing-masing,” tutup Delia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








