MALANG, Tugujatim.id – UM (Universitas Negeri Malang) berhasil mencatat prestasi membanggakan di kancah nasional. Berdasarkan pemeringkatan EduRank University Rankings 2025, UM masuk daftar kampus terbaik di bidang Energi Terbarukan, menempati peringkat kedua di Jawa Timur, tepat di bawah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Untuk tingkat nasional, UM masuk daftar kampus terbaik dengan posisi 10, berada satu tingkat di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB). Pencapaian ini menjadi bukti keseriusan UM dalam pengembangan riset, inovasi, dan hilirisasi teknologi energi terbarukan.
Wakil Rektor III UM Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Inovasi Prof Dr Munjin Nasih menyebut, capaian ini sangat membanggakan, terlebih UM termasuk kampus pendatang baru di sektor energi terbarukan.
“UM nomor satu di Malang, nomor dua di Jawa Timur. Prestasi ini luar biasa mengingat banyak kampus besar yang sudah lama bergerak di bidang ini,” ujarnya.
UM mulai serius menggarap riset energi terbarukan sejak 2015, ketika membentuk Pusat Material Maju untuk Energi Terbarukan. Kini, UM memiliki dua Pusat Unggulan Iptek (PUI) yang diakui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yaitu PUI Disruptive Learning Innovation (DLI) dan PUI Centre of Advanced Materials for Renewable Energy (CAMRY).
Baca Juga: Program GEN-START: Kebidanan FK UM Bekali Siswi SMKN 2 Malang Cegah Stunting sejak Remaja
“Jadi untuk dua PUI yang dimaksud, hanya dimiliki UM. Kementerian hanya mengesahkan satu PUI untuk satu perguruan tinggi, jadi bila sudah ada di UM, maka di kampus lain tidak boleh ada untuk topik yang sama,” imbuh Munjin.
Sejak diresmikan pada 2020, PUI CAMRY telah mengembangkan berbagai inovasi energi terbarukan yang sudah diaplikasikan, baik di lingkungan kampus maupun industri di sejumlah daerah.
“Kami bersyukur UM masuk top 10 yang punya kompetensi, keunggulan, di bidang energi terbarukan, sekalipun UM sebagai pendatang baru dari grup PTNBH. Namun demikian kami tidak boleh puas dengan capaian ini, kami akan berusaha terus meningkatkan kompetensi kami,” ujarnya.
Pionir Produksi Fast Charger Kapasitas Besar
Direktur Inovasi UM Prof Dr Nandang Mufti MT mengungkapkan, UM telah menggarap riset energi terbarukan secara luas, mencakup energi surya, angin, mekanik, panas, hingga energi berbasis air. Di sektor penyimpanan energi, UM sukses mengembangkan baterai dan superkapasitor dalam berbagai bentuk, kemudian mengombinasikannya menjadi Supercapattery berbahan alam seperti nikel dan karbon. Inovasi ini mampu melakukan pengisian daya dengan cepat sekaligus memiliki kapasitas besar, sehingga berpotensi menjadi teknologi unggulan di industri kendaraan listrik.
Kekuatan UM di bidang ini juga tercermin dari produktivitas akademiknya. Berdasarkan data publikasi terindeks Scopus, pada 2023 dosen UM menghasilkan 231 publikasi di bidang energi terbarukan, disusul 219 publikasi pada 2024, dan hingga Juli 2025 telah tercatat 126 publikasi.

Tiga dosen dengan kontribusi publikasi tertinggi adalah Nandang Mufti, Poppy Puspitasari, dan Markus Diantoro. Produktivitas riset inilah yang menjadi salah satu indikator penting penilaian EduRank, sehingga menempatkan UM masuk daftar kampus terbaik nasional untuk bidang energi terbarukan.
Tidak hanya itu, UM kini menjadi pionir perguruan tinggi di Indonesia yang memproduksi fast charger mobil listrik kapasitas besar, termasuk untuk truk dan bus listrik, yang sebelumnya masih mengandalkan produk impor. Di mana UM telah mengembangkan SPLU berkapasitas 220 kVA yang mampu mengisi daya mobil listrik Hyundai Ioniq hanya dalam waktu 15 menit.
“Kami siap berkontribusi memenuhi kebutuhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) nasional. Proses produksi kami lakukan bersama mitra swasta dan lembaga pemerintah,” terang Nandang.
Inovasi Energi Terbarukan UM
Selain fast charger, UM juga mengembangkan berbagai inovasi energi terbarukan yang telah diaplikasikan di kampus maupun industri. Salah satunya adalah Smart Grid terintegrasi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan produksi dan distribusi listrik secara daring.
UM juga telah memasang PJU Hybrid, gabungan energi surya dan angin, di sejumlah lokasi strategis seperti pelabuhan di Maluku, Sulawesi Utara, dan kawasan Sendang Biru, Malang. Inovasi lainnya adalah PJU Picohydro yang mampu memanfaatkan aliran air kecil untuk menghasilkan listrik bagi penerangan.
Di lingkungan kampus, gedung seperti A19 sudah memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kWp dengan produksi listrik hingga 200 kWh per hari, dilengkapi sistem monitoring online. Konsep green campus pun terus dikembangkan melalui pemanfaatan air hujan, desain bangunan hemat energi, dan penggunaan panel surya untuk kebutuhan listrik harian.
Munjin menegaskan bahwa langkah UM sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai bauran energi terbarukan 25% pada 2026.
“Kami bergerak dari riset, aplikasi, hingga hilirisasi. Dari hulu ke hilir, UM siap berkontribusi untuk kebutuhan energi nasional,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








