Wabah PMK Bikin Produksi Susu Ngantang Kabupaten Malang Merosot Drastis - Tugujatim.id

Wabah PMK Bikin Produksi Susu Ngantang Kabupaten Malang Merosot Drastis

  • Bagikan
Produksi susu. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang)
Peternak sapi perah di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, tengah memberi makan sapinya yang sedang menjalani pemulihan pasca terpapar PMK. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang)

MALANG, Tugujatim.id – Penyebaran kasus virus PMK yang makin meluas, membuat peternak di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, ikut terdampak. Bahkan, jumlah produksi susu di sana merosot drastis. Berdasarkan data dari KUD Sumbermakmur, setoran susu yang semula hingga 104 ton per hari, kini hanya 40 ton.

Penurunan jumlah produksi susu itu nanti masih berkurang karena ada proses seleksi dari pabrik yang tidak menerima susu terkontaminasi antibiotik. Karena itu, kerugian KUD bakal semakin banyak jika ditemukan susu terkontaminasi.

Ketua KUD Sumbermakmur Ngantang Sugiyono mengatakan, situasi itu membuat KUD harus membuang susu terkontaminasi antibiotik. Dia melanjutkan, sapi perah itu memang harus mendapat perawatan suntik antibiotik dengan masa inkubasi total hingga sepekan.

Dalam masa itu, biasanya peternak tidak melakukan pemerahan sapi. Namun berhubung di situasi darurat, peternak mau tidak mau tetap harus menyetorkan susu meski sapinya masih dalam pengaruh obat.

”Kami sebagai KUD juga badan sosial, jadi meski ada susu antibiotik, kami tetap beli. Total ada 5.000 liter susu per hari terpaksa harus kami buang. Harga per liter dibeli Rp6 ribu, tinggal dikalikan saja kerugiannya,” bebernya pada Kamis (23/06/2022).

Sebaran virus PMK di Kecamatan Ngantang terbilang sudah luar biasa. Berdasarkan data dari KUD Sumbermakmur Ngantang per 21 Juni 2022, total sudah ada 8.000 lebih dari total populasi 17.872 ekor sapi perah positif PMK.

Kasus paparan PMK kali pertama mulai muncul sejak 27 April 2022 di satu dusun. Wabah itu kini sudah menyebar di 13 desa lain. Situasi ini mau tak mau menimbulkan kepanikan. Terlebih, mayoritas warga di sana bergantung hidup dari beternak sapi perah. Ratusan sapi terpapar dan mulai bertumbangan. Total ada sekitar 250 ekor sapi perah mati akibat PMK.

Sugiono mengatakan, ada 250 ekor sapi yang mati dan 550 ekor sapi yang dijual atau dipotong paksa. Bahkan, peternak yang kelimpungan terpaksa menjual sapinya di bawah harga normal.

”Itu 3 ekor sapi yang mestinya seharga Rp10 juta-Rp15 juta per ekor, akhirnya dijual Rp10 juta, 3 ekor. Situasinya sudah sangat luar biasa. Kami harap pemerintah bisa segera mengatasinya,” ungkapnya.

Menurut dia, KUD terus berupaya menekan laju sebaran virus dengan suplai obat-obatan seperti vitamin, antibiotik, dan obat-obatan kimia lain yang direkomendasikan dinas. Bahkan, peternak juga sampai menerapkan pengobatan alternatif seperti obat herbal dan dukun.

Sugiono berharap pemerintah bisa bertindak cepat dan maksimal dalam melakukan penanganan. Peran pemerintah untuk terjun ke lapangan dirasa masih belum optimal.

”Tapi, alhamdulillah per hari ini kami sudah dapat 500 dosis vaksin,” kata dia.

Untuk diketahui, selain di Kecamatan Ngantang, ada 5 kecamatan di Kabupaten Malang yang melaporkan sebaran PMK seperti Kecamatan Wajak, Gondanglegi, Bululawang, Singosari, dan terbanyak di Kecamatan Ngantang.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan