• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
patung karapan sapi, ikon Kota Surabaya

patung karapan sapi, ikon Kota Surabaya kini mulai rusak. (Foto: Basra)

Menengok Patung Karapan Sapi di Surabaya, Ikon Kota yang Kini Mulai Rusak

Redaksi by Redaksi
6 years ago
in Featured, News, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Surabaya – Sebuah patung karapan sapi lengkap dengan penunggangnya ini akan tampak kala kita berputar balik di Jalan Basuki Rahmad Surabaya. Namun, patung yang berdiri kokoh dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tahun 1990 itu kini muali rusak dengan lubang di sana-sini.

Kini, patung karapan sapi itu telah berusia 30 tahun. Selain tampak mulai rusak di beberapa bagiannya. Seperti hilangnya tongkat pengendara sapi dan yang paling mencolok adalah terdapat lubang yang cukup besar pada bagian tubuh sapi.

You might also like

Pasar Gadang.

Pembangunan Pasar Gadang Malang Dinilai Lambat, Warga Khawatir Pedagang Kembali ke Pinggir Jalan

13/06/2026 6:08 PM
Pemkot Malang.

Harga Pertamax Naik, Pemkot Malang Lirik Kendaraan Listrik Tekan Anggaran

13/06/2026 5:25 PM

Baca Juga: Daftar Produk Prancis di Indonesia, Mulai Danone, L’Oréal, hingga Ubisoft

Dhahana Adi Pungkas seorang penulis Surabaya Punya Cerita pun menyangkan atas rusaknya beberapa bagian patung yang mulai hilang, dan tidak menunjukkan keaslian warna patung.

“Sebagai salah satu mahakarya seni, ya saya sedih nggak nyangka kalau patung yang punya filosofi ini rusak. Apalagi patung ini juga di cat, padahal dulu warna asli patung ini ya tembaga,” kata pria yang akrab disapa Ipung ini pada Basra, partner Tugu Jatim, Rabu (11/11).

Ipung menuturkan, jika patung karapan sapi ini merupakan salah satu simbol di Kota Pahlawan selain patung Surabaya yang ada di depan Kebun Binatang Surabaya.

“Kalau di pikir secara pembangunan, pintu masuk ada patung Surabaya. Di tengah kota ada patung karapan sapi yang menunjukkan bahwa pembangunan harus berkelanjutan, dan diujung ada patung Jalesveva Jayamahe yang menunjukkan jati diri bangsa ini sebagai negara maritim,” ucapnya.

Baca Juga: Mengunjungi Ndalem Pojok, Kediaman Kedua Sukarno di Kediri

Ipung mengungkapkan, untuk merawat aset yang ada di Surabaya tidak bisa dilakukan oleh pemerintah kota saja. Melainkan seluruh masyarakat harus turut andil.

“Untuk merawat ini itu nggak bisa pemkot sendiri yang bergerak, kita semua harus bergerak. Harapan pemkot yang akan datang harus diingat, kalau pemkot adalah pemangku kota jangan apa karepku (terserah diri sendiri). Namanya pemangku kota tidak bisa memikirkan seorang diri. Paling nggak ajak berkolaborasi lah. Atau melibatkan masyarakat. Karena pembangunan kota itu bagaimana enaknya, bukan opo karepku,” tutur Ipung.

Filosofi Patung Karapan Sapi ‘Tinggal Landas’

Ipung menjelaskan, dibangunnya patung karapan sapi karya dari seorang pematung terkenal Indonesia bernama I Nyoman Nuarta ini mempunyai makna mendalam untuk negera, khususnya Surabaya.

Patung Karapan Sapi ‘Tinggal Landas’ ini merupakan sebuah mahakarya yang bisa memberikan spirit untuk bisa bergerak maju.

Karena menurutnya, sang pembuat I Nyoman Nuarta
ingin membuat sebuah patung bergerak. Dalam hal ini setiap pembangunan diharapkan bisa punya spirit.

“Sebenarnya Indonesia sejak tahun 90-an sudah punya keinginan bukan hanya menjadi negera berkembang, tapi juga negara maju dengan berbagi indikator. Di era itu, Indonesia selalu dikaitkan dengan negara tinggal landas. Nah tema besar negara tinggal landas ini diharapkan punya spirit itu,” jelas.

Baca Juga: 15 Daftar Website Penyedia Vektor Gratis yang Super Keren

Tak hanya itu, pada era tersebut Ipung menuturkan jika kota Surabaya sudah difokuskan untuk menjadi kota maju dan siap bergerak, dengan harapan Surabaya siap mendukung kebijakan pemerintah dan bisa go internasional.

“Diakui atau tidak Jatim khususnya Surabaya itu pasaknya pembangunan dari Indonesia. Otomatis untuk mewakili konteks tinggal landas di surabaya ya karapan sapi. Dimana karapan sapi ini kan berpacu untuk meraih apa yang dituju. Kalau ditampilkan yang lain seperti remo kan kurang pas. Karen remo cenderung untuk menyambut tamu atau selamat datang,” tutur Ipung.

Dipilihnya karapan sapi untuk mewakili konteks tinggal landas pun bukan tanpa sebab. Dimana tradisi karapan sapi bagi masyarakat Madura merupakan bentuk simbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura. Karena sapi yang digunakan untuk pertandingan merupakan sapi berkualitas sangat baik dan dengan perlakuan yang istimewa.

Sementara hewan sapi merupakan binatang yang kuat. Apalagi hampir semua sudut badannya berguna untuk manusia.

Baca Juga: Cara Mengatasi Stres Berkepanjangan, Lakukan Hal-hal Berikut!

“Mungkin Pak Nyoman melihat sapi sebagai simbol kekuatan dan perjuangan. Nah filosofinya kalau kita mau jadi manusia ya jadi manusia yang berguna untuk semua orang. Lalu patung ini dapat mengingatkan kita bahwa negera kita harus maju, bagaimana kita harus jadi pemenang dan tidak merekahkan orang lain. Jadi ini untuk merefleksikan perjuangan,” ucap pria 36 tahun ini.

Untuk itu, Ipung mengajak masyarakat untuk menjaga dan mengenalkan tempat-tempat atau monumen bersejarah yang ada di Kota Pahlawan ini.

“Tugas kita sebagai genrasi sekarang untuk mengenalkan juga kepada masyarakat bahwa patung ini bukan sekadar patung. Karena saya merasakana ada spirit di dalamnya. Karena yang buat juga bukan sekadar membuat memenuhi pesanan. Pak Nyoman bilang minimal anak cucu kita tau bentuk sapi seperti apa,” pungkasnya. (Amm/Basra/gg)

 

Sumber Artikel: Berita Anak Surabaya (Basra)

Tags: Kota SurabayapatungSejarahSurabaya
Redaksi

Redaksi

Related Stories

Pasar Gadang.

Pembangunan Pasar Gadang Malang Dinilai Lambat, Warga Khawatir Pedagang Kembali ke Pinggir Jalan

by Dwi Linda
13/06/2026 6:08 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Warga Kota Malang mulai mempertanyakan kelanjutan proyek penataan Pasar Induk Gadang setelah proses relokasi pedagang dilakukan sejak...

Pemkot Malang.

Harga Pertamax Naik, Pemkot Malang Lirik Kendaraan Listrik Tekan Anggaran

by Dwi Linda
13/06/2026 5:25 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai berdampak pada biaya operasional pemerintah daerah. Di tengah...

Cuaca di Jawa Timur.

Hujan Ringan dan Udara Kabur Dominasi Cuaca di Jawa Timur 13 Juni 2026, Waspadai Kelembapan Tinggi dan Jarak Pandang

by Dwi Linda
13/06/2026 8:58 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jawa Timur pada Sabtu (13/06/2026) didominasi hujan ringan, udara kabur, dan kondisi berawan di berbagai wilayah....

Santri

Terkendala Gelombang Tinggi, Pencarian Hari Kedua Santri Terseret Ombak di Blitar Nihil

by Mochamad Abdurrochim
12/06/2026 8:54 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Operasi pencarian terhadap santri asal Kabupaten Kediri yang terseret ombak di Pantai Pangi, Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung,...

Next Post
Aqua Dwipayana ketika melakukan kunjungan ke Malang.

Melihat Silaturahmi Efektif ala Aqua Dwipayana: 4 Jam di Malang, 5 Kegiatan

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID