Esai  

Al-Insyirah Kiai Idris

Al-Amien
Alumni TMI Al-Amien Prenduan sowan ke dhalem Kiai Ghozi Mubarok saat Reuni Akbar Kesyukuran 70 Tahun Al-Amien Prenduan.

Pertalian santri dengan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tidak hanya sebatas catatan arsip. Al-Amien adalah ibu, santri sebagai anaknya. Anak yang kadang merengek, tapi setiap waktu memikirkan kesehatan ibunya. Kalau jauh dengan ibu, layar rindu pasti selalu terkembang. Ingin sekali rasanya segera pulang.

Dunia modern yang menawarkan interaksi dan komunikasi digital, tidak bisa melengkapi perangkatnya dengan emosi jiwa yang seutuhnya. Santri bisa melihat kondisi Al-Amien Prenduan di media sosial, tapi itu hanya perwajahan saja.

Kerinduan kepada Al-Amien Prenduan tidak cukup hanya dengan melihat perwajahan itu. Santri ingin tahu, masih nyaringkah suara jaros di depan masjid? Jangan-jangan lonceng itu sudah diganti dengan pengeras suara otomatis; Apakah al-qitor masih mengepulkan asap yang tebal? Jangan-jangan kereta persembunyian itu sudah beralih fungsi. Terpenting lagi, santri ingin tahu bagaimana keadaan para kiai, para guru, yang dengan sabar menumbuhkan biji. Layaknya petani yang sabar diterpa panas dan hujan, demi benih yang tumbuh dan berkembang.

Saya salah satu santri itu. Santri yang ingin sekali pulang ke rumah. Membasuh diri di sumber mata air yang jernih lagi suci. Mengaji di buju’ teduh.

Sabtu siang 17 Rabiul Akhir 1444 Hijriah, turun hujan agak lebat di pekarangan TMI Al-Amien Prenduan. Tepat di hari Reuni Akbar Kesyukuran 70 Tahun Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Saya senang saja, karena orang sering bilang, hujan yang turun adalah berkah yang melimpah. Filosof Alam dari Miletus, Thales, menyebut air adalah sumber segala sesuatu. Pemikiran yang kemudian berkembang, bahwa air salah satu sumber utama kehidupan. Tentu Al-Quran juga jelas menyebut hujan sebagai rejeki.

Ribuan santri saat itu tumpah ruah di Al-Amien. Berteduh di Puspagatra yang megah, di gazebo-gazebo, dan di kelas-kelas marhalah. Mata saya melihat mereka sebagai orang asing, tidak kenal. Tapi jiwa melihatnya lain, mereka adalah saudara dari ibu kita Al-Amien Prenduan.

Hujan dan gedung-gedung kokoh itu lalu menyergap pikiran. Menggiring memori pada masa-masa belajar di tahun 2006-2010. Di depan Puspagatra, saya mengingat bagaimana perkasanya Konsulat Maratim dalam beberapa perlombaan dan penampilan antar daerah. Saya yang waktu itu menjadi koordinator, tentu sangat bangga mengingat kembali momen-momen itu.

Tapi belum tuntas ingatan itu, ingatan lain juga datang. Ketegangan antar angkatan dengan skala cukup besar. Melakukan gesekan dengan angkatan muallim. Saya bersama 3 teman angkatan, harus bertanggungjawab atas perkara itu. Almaghfurlah KH. Muhammad Idris Jauhari marah besar, kasus itu menjadi atensi para kiai pimpinan TMI. Kami diadili Majelis Permusyawaratan Organtri (MPO).

Tetapi berkat kemurahan hati Almaghfurlah Kiai Idris, kami masih diberi kesempatan untuk belajar di Al-Amien. Sungguh kami menyesali itu hingga saat ini. Karena perseteruan model begitu, sudah pasti tidak ada manfaatnya, sekarang dan seterusnya.

Banyak cerita yang akan dikenang santri saat menjalani proses belajar di Al-Amien. Masing-masing santri punya cerita berbeda-beda. Masing-masing angkatan punya kisah berbeda juga. Baik itu prestasi akademis, atau kisah pahit dan manis.

Pengasuh Ma’had TMI Al-Amien Prenduan KH. Dr. Ghozi Mubarok, M.A. menggambarkan perbedaan-perbedaan itu saat membuka reuni akbar di lapangan sepak bola Al-Amien. Setiap santri beliau katakan, memiliki kenangan masing-masing. Setiap santri dibesarkan dalam tradisi masing-masing.

70 tahun Al-Amien Prenduan berdiri kata beliau, merupakan proses yang panjang dan tentu melahirkan banyak tradisi yang berbeda. Hal itu menjadi salah satu keunikan dari santri Al-Amien Prenduan sendiri. Tetapi pada akhirnya, santri Al-Amien berkumpul menjadi satu. Berikhtiar bersama untuk menyatukan diri sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Kiai Ghozi dalam sambutannya bercerita tentang Damas Diri (Dapur Masak Sendiri). Saya dan santri angkatan selanjutnya, tidak kebagian momen itu. Dapur santri sudah dibagi-bagi. Saya sendiri kebagian Dakaf (Dapur Kafetaria) Kiai Marzuqi dan dapur Ustad Fahmi. Kebetulan orang tua waktu itu sering menitipkan saya kepada dua kiai sekampung di Kapedi itu.

Tapi saya sangat bersyukur, -berada pada kesempatan- masih kebagian  belajar kepada Almaghfurlah KH. Mohammad Tidjani Djauhari, kepada Almaghfurlah Kiai Idris di musala, memandangi Almaghfurlah KH. Maktum Jauhari naik motor menuju masjid. Sebuah periode akhir kepemimpinan tiga kiai luar bisa tersebut.

Dari tiga bunga mekar Gontor tersebut, saya menyaksikan dan belajar ketekunan, kedisiplinan, kesederhanaan, kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa, dan banyak lagi yang lainnya. Husnul khotimah.

Benar lah yang disampaikan Kiai Ghozi, pengalaman menjadi santri Al-Amien setidaknya membentengi atau menyelamatkan kami dari kerusakan-kerusakan. Syukur jadi modal kata beliau, untuk bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi bagi sebanyak-banyaknya manusia.

Pada momen Kesyukuran 70 Tahun Al-Amien Prenduan ini, saya bersyukur bisa melihat para kiai gagah berdiri dan penuh semangat mengajarkan kami sebagai santri. Pimpinan dan Pengasuh Al-Amien Prenduan KH. Ahmad Muhammad Tidjani, M.A., Ph.D., berserta majelis kiai, ibu nyai, para guru sekalian.

Selain sudah tentu, kerinduan yang juga hebat, berkumpul bersama teman angkatan. Puluhan yang datang. Emosinya kelihatan sama, rindu Bumi Jauhari.

Dan sangat beruntung, kami bisa sowan ke dhalem Kiai Ahmad dan Kiai Ghozi. Teman kami bertanya terkait beberapa hal. Pertanyaan yang mungkin sudah disiapkan dari rumah. Ditanyakan khusus kepada kiai. Tentang sanad keilmuan Al-Amien Prenduan.

Kiai Ghozi menyampaikan hal terkait dengan ringkas dan padat. Bahwa sumber-sumber keilmuan Al-Amien dari banyak tempat; mulai dari Almagfurlah Kiai Chotib, Almagfurlah Kiai Jauhari, mulai dari Guluk-Guluk, Mekkah, Padang Panjang-Gontor, Tebu Ireng, yang semua itu kata Kiai Ghozi, insyaallah tersambung kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Tidak semua yang disampaikan Kiai Ghozi saya ingat. Ini kelemahan jika tidak mencatat. Padahal ilmu, sebagaimana disampaikan Imam Asy-Syafi’i, ibarat binatang buruan. Cara mengikatnya agar tidak lepas adalah dengan tulisan atau catatan.

Tidak hanya soal sanad keilmuan, ada juga pertanyaan semi permintaan. Yaitu pertanyaan tentang amalan apa, yang diberikan ayahanda Almaghfurlah Kiai Idris kepada Kiai Ghozi, untuk menjalani hari-hari.

Salah satu yang diajarkan Almaghfurlah Kiai Idris, disampaikan Kiai Ghozi, yaitu membaca Surat Al-Insyirah setiap habis salat lima waktu. Memohon kepada Allah SWT kelapangan dan kelancaran urusan.

ba’da kulli maktubah,” tandas Kiai Ghozi.

Judul di atas sebenarnya tidak sepenuhnya mewakili isi yang saya tulis ini. Saya belum menemukan literatur tentang apa dan bagaimana Almaghfurlah Kiai Idris mengamalkan Al-Insyirah. Meskipun saya sangat yakin, yakin seyakin yakinnya, amalan ini juga menjadi salah satu pegangan almarhum. Dan akan lebih baik lagi jika ada santri atau alumni, yang bisa menjabarkan tentang Al-Insyirah Almaghfurlah Kiai Idris. Sebuah catatan komperhensif tentang Al-Insyirah yang diamalkan Almaghfurlah Kiai Idris.

 

Fajrus Sidiq
Santri TMI Al-Amien Prenduan angkatan 2010
Pangeran Kosasi Lesbumi NU Kota Malang