Tugujatim.id – Gelombang unjuk rasa yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir menimbulkan keprihatinan. Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI–Polri (GM FKPPI) pun memberikan responsnya.
Aksi massa yang berujung kericuhan dinilai berpotensi mengganggu stabilitas nasional jika tidak dikendalikan dengan baik. Menyikapi situasi tersebut, GM FKPPI menyerukan agar masyarakat kembali pada Pancasila dan UUD 1945 sebagai pegangan hidup berbangsa.
Baca Juga: Bertahap! 61 Orang Dilepaskan usai Demo Ricuh di Polresta Malang Kota
GM FKPPI yang dikenal sebagai organisasi bagian dari TNI–Polri menyatakan dukungannya terhadap pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto. Mereka sejalan dengan seruan agar aksi penyampaian aspirasi dilakukan secara tertib dan tidak ditunggangi kepentingan lain yang bisa merusak kedaulatan bangsa.
Wakil Ketua Umum GM FKPPI sekaligus Ketua PD XIII GM FKPPI Jawa Timur Ir R. Agoes Soerjanto menyampaikan keprihatinannya terhadap gelombang unjuk rasa yang berujung ricuh. Menurut dia, ada dinamika yang sangat kompleks di balik peristiwa tersebut.
“Di balik aksi tersebut, kami bisa melihat ada potensi adu domba dan manipulasi informasi. Patut diduga ada pihak yang ingin mengguncang stabilitas nasional. Mereka tidak ingin melihat bangsa ini damai dan makmur,” kata Agoes Soerjanto.
Lebih lanjut, Agoes mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali ke akar bangsa, yakni Pancasila dan UUD 1945, yang dia sebut sebagai algoritma kehidupan berbangsa.
“Di tengah kemajuan teknologi saat ini kita hidup dalam dunia yang dikendalikan algoritma digital. Media sosial mampu memengaruhi karakter individu bahkan mampu memobilisasi massa untuk berbuat negatif,” tambahnya.
Menurut Agoes, jauh sebelum era digital, bangsa Indonesia telah memiliki algoritma sendiri yang menjadi dasar kehidupan berbangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
“Spirit dari keduanya adalah membentuk cara berpikir kita untuk bergotong royong, berketuhanan, persatuan, musyawarah mufakat serta berkeadilan sosial,” jelas dia.
Pancasila dan UUD 1945 Jadi Filter Hadapi Era Digital
Agoes menegaskan pentingnya menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pegangan dalam menghadapi situasi yang tidak menentu. Dia menilai keduanya bisa menjadi filter dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
“Mungkin yang saya sampaikan ini terdengar klise, namun kita harus mengacu ke situ di tengah situasi keamanan yang belum menentu. Ketika mengacu pada algoritma Pancasila dan UUD 45 kita tidak akan mudah diprovokasi, dapat menyaring emosi menjadi empati, konflik menjadi musyawarah serta kekacauan menjadi ketertiban. Kita jangan terseret kepada algoritma lain seperti algoritma media sosial yang penuh kebencian, ilusi dan adu domba,” sambung Agoes.
Lebih jauh, Agoes mengingatkan bahwa tidak seharusnya kehidupan bangsa Indonesia dipengaruhi algoritma dari luar yang tidak memahami nilai luhur bangsa.
“Lebih lanjut Agoes menambahkan bahwa tidak seharusnya kehidupan bangsa Indonesia dipengaruhi algoritma dari luar yang tidak mengenal nilai luhur yang diciptakan bapak bangsa kita. Pancasila itu bukan hanya dasar negara melainkan juga arah etik bagi berbangsa dan bernegara,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








