Tugujatim.id – Pondok pesantren di Jawa Timur terbukti mampu bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Meski diterpa perubahan zaman dan tantangan pembangunan, ‘Pondok Pesantren Tua di Jawa Timur’ ini tetap berdiri kokoh dan menjadi saksi perjalanan pendidikan Islam di Indonesia.
Beberapa di antaranya bahkan telah berdiri sejak abad ke-18, dengan bangunan utama yang masih dipertahankan dan tradisi keilmuan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Keteguhan pesantren-pesantren ini mencerminkan kekuatan nilai spiritual dan sosial dalam menjaga warisan keislaman di Jawa Timur.
1. Pondok Pesantren Cangaan Bangil, Berdiri 1710 Masehi
Pondok Pesantren Cangaan di Bangil, Pasuruan, dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Menurut berbagai sumber sejarah, pesantren ini berdiri sekitar tahun 1710 Masehi dan didirikan oleh Syekh Jalaluddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Lowo Ijo.
Pada masa awal berdirinya, Ponpes Cangaan menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam bagi masyarakat setempat sekaligus tempat menimba ilmu bagi para santri dari berbagai daerah, termasuk Madura dan luar Jawa.
Pesantren ini juga memiliki keterkaitan erat dengan tokoh besar seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, guru dari KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama.
Hingga kini, bangunan bersejarah seperti kamar santri Mbah Lowo dan sumur peninggalan masa lampau masih terjaga. Di bawah pengasuhan Gus Ayik, Cangaan tetap mempertahankan tradisi keilmuan klasik sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, menjadikannya pesantren berusia lebih dari tiga abad yang tetap hidup dan berpengaruh di Pasuruan.
2. Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tua yang Lahir dari Tirakat
Pondok Pesantren Mojosari yang terletak di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Berdiri pada tahun 1720 Masehi, pesantren ini didirikan oleh KH Ali Imron asal Bojonegoro atas perintah gurunya, KH Salimin Awwal.
Awalnya, KH Ali Imron diminta untuk mencari lokasi yang dianggap angker untuk dijadikan tempat berdirinya pesantren. Setelah melalui masa tirakat dan menebang pepohonan di area tersebut, ia kemudian mendirikan Pondok Pesantren Mojosari yang kelak menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Nganjuk.
Pesantren ini dikenal dengan tradisi kekeluargaan yang kuat di antara para santri dan pengasuhnya. Sepanjang sejarahnya, Pondok Pesantren Mojosari telah melahirkan banyak tokoh besar, di antaranya KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Ahmad Djazuli Ploso.
Kini, pesantren tersebut terus berkembang dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari MTs dan MA hingga madrasah diniyah dan TPQ, tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf yang menjadi ciri khasnya sejak awal berdiri.
3. Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Berdiri Sejak 1745
Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan menjadi salah satu pesantren tertua di Indonesia.
Menurut catatan situs resmi Sidogiri, terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745 Masehi.
Catatan Panca Warga tahun 1963 yang ditandatangani oleh para pengasuh Sidogiri menyebut tahun 1718 sebagai awal berdirinya pesantren, sedangkan versi lain yang juga ditandatangani oleh KH Sa’doellah Nawawie menunjukkan tahun 1745 sebagai tahun resmi pendirian.
Hingga saat ini, tahun 1745 Masehi atau 1158 Hijriah dijadikan acuan resmi hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang diperingati setiap akhir tahun pelajaran.
Meski begitu, pesantren yang didirikan oleh Sayyid Sulaiman ini masih mempertahankan sistem pendidikan salaf dengan ribuan santri dari berbagai daerah.
Bangunan-bangunan di kawasan pondok sebagian besar telah mengalami perbaikan, namun bentuk arsitektur tradisional seperti bata merah dan atap genting masih dipertahankan. Keteguhan Sidogiri selama hampir tiga abad menjadi simbol adaptasi tanpa kehilangan akar tradisi.
Tak hanya itu, Sidogiri juga dikenal sebagai pesantren mandiri yang mampu mengelola ekonomi umat melalui koperasi dan unit usaha berbasis pesantren. Upaya ini membuat pesantren tetap bertahan secara ekonomi tanpa bergantung pada bantuan luar.
4. Pondok Pesantren Tebuireng Jombang
Didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Tebuireng menjadi tonggak penting sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Menurut laman Tebuireng Online, pesantren ini berdiri pada tahun 1899 M atau 1317 Hijriah. Kala itu, KH Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah bangunan sederhana berukuran 6×8 meter dari anyaman bambu di Dusun Tebuireng, Jombang.
Bagian depan bangunan difungsikan sebagai mushala, sedangkan bagian belakang menjadi tempat tinggal beliau bersama istrinya, Nyai Khodijah. Saat pertama berdiri, pesantren ini hanya memiliki delapan santri sebelum kemudian berkembang pesat menjadi puluhan murid dalam hitungan bulan.
Pesantren ini semula berdiri di kawasan yang dikenal rawan sosial, lalu berkembang menjadi pusat moral dan keilmuan.
Tebuireng kini juga berfungsi sebagai tempat ziarah, museum, serta pusat kajian sejarah Islam. Beberapa bangunan lama seperti rumah kiai Hasyim masih berdiri dan dijaga sebagai cagar budaya.
Selain itu, pesantren ini dikenal melahirkan banyak tokoh nasional seperti KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden RI ke-4. Dari Tebuireng pula lahir berbagai gerakan sosial dan pendidikan yang memberi pengaruh besar bagi umat Islam Indonesia.
5. Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pusat Kajian Kitab Kuning
Pesantren Lirboyo didirikan pada tahun 1910 M oleh KH Abdul Karim, dan dikenal luas sebagai pesantren salaf yang menjadi pusat pengajaran kitab kuning.
Dilansir dari situs resmi Lirboyo, dahulu Desa Lirboyo di Kediri dikenal sebagai tempat yang angker dan terpencil, dikelilingi rimbunan pohon lebat sehingga sering dijadikan persembunyian para perampok dan penjahat dari berbagai daerah.
Pada tahun 1910, suasana desa itu berubah ketika Almaghfurlah KH Sholeh Banjarmelati bersama menantunya, KH Abdul Karim dari Magelang, mendirikan pondokan santri yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Lirboyo.
Sejak saat itu, kawasan yang dulunya dianggap berbahaya berubah menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani.
Kini, Pondok Pesantren Lirboyo menjadi salah satu pesantren salaf terbesar di Jawa Timur, dengan jumlah santri mencapai puluhan ribu.
Dalam usianya yang lebih dari satu abad, pesantren ini telah melahirkan banyak ulama dan tokoh penting yang berpengaruh di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun pemerintahan Jawa Timur.
Meskipun beberapa bangunan telah direnovasi, pondok ini tetap menjaga nuansa klasik pada masjid utama dan kompleks asrama santri.
Kehidupan santri di Lirboyo juga masih mencerminkan kesederhanaan khas pesantren tradisional, dengan sistem pendidikan berbasis pengajian kitab dan adab kepada guru.
6. Gontor Ponorogo, Pesantren Modern Berusia Hampir Satu Abad
Meski lebih muda dibanding pesantren salaf, Pondok Modern Darussalam Gontor yang berdiri pada 1926 tetap menjadi ikon penting pendidikan Islam modern di Jawa Timur.
Dilansir dari situs resmi Gontor, sejarah pondok ini dimulai dari Pondok Tegalsari yang didirikan Kyai Ageng Hasan Bashari pada abad ke-18, lalu dilanjutkan oleh cikal bakalnya Pondok Gontor Lama.
Hingga pada 20 September 1926, Kyai Ahmad Sahal, Kyai Zainuddin Fannanie, dan Kyai Imam Zarkasyi (Trimurti) mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).
Gontor menggabungkan sistem pendidikan klasik dan modern dengan disiplin ketat yang diterapkan pada ribuan santri. Hingga kini, banyak pesantren di Indonesia yang mengadopsi pola manajemen dan pendidikan ala Gontor.
Pesantren ini dikenal dengan semboyannya “Berdiri di atas dan untuk semua golongan,” yang mencerminkan semangat toleransi dan nasionalisme. Keberhasilannya menjaga nilai-nilai itu selama hampir satu abad menjadi bukti bahwa pesantren bisa tetap maju tanpa meninggalkan akar keislaman.
7. Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo
Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, didirikan oleh KH Raden Khozin Khoiruddin, atau dikenal sebagai Kiai Khozin Sepuh, sekitar tahun 1915 hingga 1920 Masehi.
Beberapa sumber menyebutkan berdiri antara tahun 1926–1927, namun menurut pengasuh saat ini, KHR Abdus Salam Mujib, pesantren ini telah ada sekitar tahun 1920 berdasarkan catatan santri pertama dan cerita tutur dari alumni sepuh.
Sebelum mendirikan pesantren di Buduran, Kiai Khozin sempat mengasuh pesantren di Siwalan Panji. Pendirian Al Khoziny sendiri berawal dari keinginannya membangun kediaman bagi putranya, KH Moch Abbas, sepulang menimba ilmu di Makkah selama hampir sepuluh tahun.
Pesantren ini berlokasi strategis di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Sidoarjo, dan dikenal luas dengan sebutan Pesantren Buduran. Sejak awal berdirinya, Al Khoziny menjadi pusat pendidikan Islam dan dakwah di wilayah pesisir Sidoarjo.
Di bawah kepemimpinan KH Moch Abbas, pesantren ini berkembang pesat dan dikenal dengan tradisi khataman tafsir Jalalain yang menjadi ciri khasnya.
Setelah KH Moch Abbas wafat pada tahun 1978, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Abdul Mujib Abbas, yang membawa Al Khoziny menuju era modernisasi pendidikan dengan mendirikan berbagai lembaga formal seperti Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.
Kini, estafet kepemimpinan dipegang oleh KH R. Abdus Salam Mujib, cucu dari pendiri pesantren. Beliau juga menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo dan merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Di bawah asuhannya, pesantren ini tetap mempertahankan tradisi keilmuan salafiyah sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman, menjadikannya salah satu pesantren tua yang tetap eksis di Jawa Timur.
Namun, perjalanan panjang itu kini diwarnai duka. Pada 28 September 2025, sekitar pukul 15.00 WIB, sebagian bangunan Ponpes Al Khoziny ambruk saat santri tengah melaksanakan salat Asar. Musibah tersebut menewaskan beberapa santri dan melukai belasan lainnya.
Meski begitu, keluarga besar pesantren bersama masyarakat tetap bertekad membangun kembali pondok warisan leluhur itu, menjaga semangat dan nilai-nilai perjuangan KH Khozin Khoiruddin agar terus hidup di tengah santri dan umat.
Menjaga Warisan Leluhur
Keberadaan pesantren-pesantren tua yang masih berdiri hingga kini menunjukkan kuatnya peran masyarakat pesantren dalam menjaga warisan spiritual dan budaya. Dengan perawatan bangunan, pendanaan dari alumni, dan adaptasi kurikulum yang berpijak pada nilai Islam, pesantren di Jawa Timur tetap menjadi fondasi pendidikan bangsa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








