• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Kedai 27 Burger Buto.

Kedekatan Mike Ragnar (dua dari kanan), sang owner sekaligus pengusaha kuliner Kedai 27 Burger Buto Malang, bersama para karyawan difabel yang menebarkan kasih sayang seorang ibu saat ditemui pada Selasa (30/12/2025). (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Kisah Pengusaha Kuliner Mike Ragnar, Sosok Ibu Inspiratif di Balik Kedai 27 Burger Buto Jadi “Rumah” bagi Difabel dan Pelanggan

Dwi Linda by Dwi Linda
5 months ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Suasana Kedai 27 Burger Buto, Kota Malang, Jatim, ini tampak begitu hangat dan menenangkan saat didatangi Tugujatim.id pada Selasa (30/12/2025). Bahkan, sang owner sekaligus pengusaha kuliner Mike Ragnar tidak segan menyambut dengan ramah.

Ya, siapa sih yang tidak mengenal kuliner Malang Kedai 27 Burger Buto ini? Restoran ini tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi vibes-nya sudah menjadi “rumah” bagi difabel dan pelanggan.

You might also like

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

29/05/2026 7:00 AM
Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

27/05/2026 8:08 PM

Baca Juga: Peringati HDI 2025, Komunitas Syukur Njepret X Soendari Batik Ajari Difabel di Malang Fotografi Kreatif Pakai Smartphone 

Mike Ragnar, 44, sang owner Kedai 27 Burger Buto, mengatakan bahwa usaha kuliner ini telah berdiri sejak Desember 2002 atau 23 tahun yang lalu. Mike atau Bunda Mike, sapaan akrabnya, mengatakan, kedai ini diberi nama Kedai 27 karena terletak di Jalan Sarangan No 27, Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jatim.

Mike juga yang menyulap kedai ini menjadi “rumah” bagi para difabel dan pelanggan. Melalui kegigihan dan kesabarannya, nama Kedai 27 Burger Buto melejit hingga luar kota, menjadi salah satu kuliner legendaris di Kota Malang.

Kedai 27 Burger Buto Malang.
Mike Ragnar, pemilik Kedai 27 Burger Buto sekaligus sosok ibu bagi teman-teman difabel. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Tidak hanya populer dengan burger buto, Mike Ragnar juga menggandeng dan mempekerjakan para difabel untuk membentuk Dapur Bu Buto yang menawarkan aneka masakan rumahan dan kue. Meski begitu, Mike mengaku tidak mudah untuk membangun usaha ini karena sering mengalami jatuh bangun.

Langkah Awal Owner Dirikan Kedai 27

Kedai 27 dibangun bermula dari kepercayaan diri Mike Ragnar yang berasal dari keluarga pengusaha. Selain itu, dia suka memasak yang membuatnya semakin percaya diri untuk menjalankan bisnis rumah makan.

“Saya pikir karena Papa saya pengusaha, saya pasti bisa jadi pengusaha. Lalu mertua juga waktu itu ingin kami punya rumah makan,” katanya.

Berbekal kecintaannya dalam dunia masak, Mike mengawali berdirinya Kedai 27 dengan optimis yang tinggi.

“Saya percaya diri karena hobi memasak dan alhamdulillah punya bank dunia (Papa, Red) di belakang saya. Tapi, ternyata uang bukanlah segalanya,” tutur Mike.

Kedai 27 Burger Buto di Malang.
Selain Kedai 27 Burger Buto, Mike Ragnar juga tidak segan turun ikut bekerja untuk memenuhi pesanan di dapur disabilitas, tempatnya memasak bersama karyawan difabel. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Dia mengatakan, tidak ada tamu yang datang ke kedai setelah gebyar pembukaan.

“Ternyata setelah gebyar, besoknya nggak ada tamu yang datang,” kata Mike.

Kepercayaan dirinya semakin luntur dan sempat hilang harapan ketika papanya meninggal pada 2003. Namun, dia kembali bangkit untuk melanjutkan usahanya.

“Tahun 2003, Papa saya meninggal, waktu itu hopeless (kehilangan harapan, Red) karena sosok panutan saya ya Papa. Drop sebentar, tapi saya pikir masak sih mental pengusaha begini,” kata Mike.

Ibu dua anak ini memutuskan untuk tetap membuka Kedai 27, tetapi masih belum ada tamu. Alhasil, dia berjualan keliling menawarkan mie pedas, nasi kuning, aneka masakan, dan kue.

Mike juga mendapatkan masukan dari suaminya, Ragnar, untuk membuat kue yang berbeda dari umumnya.

Baca Juga: Kisah Rika Yuniarsari, Difabel Netra Jember Temukan Cahaya lewat Suara di Dunia tanpa Warna

“Suami saya bilang, Mik, kamu kalau jualan kue harus beda dari yang lain, dong,” Mike menirukan gaya bicara suaminya.

Pada saat itu, Mike akhirnya berpikiran untuk membuat kue sus berbentuk angsa. Dari ide cemerlang itu, usahanya berbuah hasil menarik ramai pelanggan. Sayangnya, ramainya pelanggan terjadi di luar Kedai 27.

“Ide boleh cemerlang, tapi cara mendatangkan tamu itu loh nggak bisa sembarangan. Tapi, saya selalu berpikir suatu saat nanti pasti akan ramai kedai ini,” ujar Mike tampak gigih dalam upaya membangkitkan usahanya.

Ide Burger Buto dan Awal Kejayaannya

Tahun berjalan hingga 2006 saat berat badan Mike mulai naik karena menjalani suntik hormon untuk mendapatkan keturunan. Saat itu pula, Ragnar yang ingin pergi touring meminta Mike untuk membuat roti dengan ukuran besar.

“Setelah jadi, kuenya kok kayak buto, ya karena bentuknya besar. Jangan-jangan kedai ini sepi karena ada setannya, waktu itu ada bayangan guede banget, ternyata itu aku,” kata Mike sambil bercanda.

Mike mulai riset tentang sosok buto dan menemukan fakta jika tidak semua buto itu jahat, ada juga buto yang baik. Hal itu menjadi awal nama burger buto dipilih.

Burger Buto Malang.
Suasana nyaman membuat pengunjung Kedai 27 Burger Buto betah berada di sini. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

“Ternyata buto ada yang baik dan kalau kata orang Jawa buto itu raksasa. Ya sudah, kasih nama Burger Buto,” jelas Mike saat ditemui pada Selasa (30/12/2025).

Mike saat itu hanya memiliki satu oven kecil karena sudah tidak bisa membeli barang baru lagi karena mengalami krisis. Karena hal itu, Mike juga sempat mendapatkan tekanan dari suaminya untuk menutup usaha itu dan kembali menjadi ibu rumah tangga saja.

“Berkali-kali suami menyuruh nutup kedai. Tapi saya punya feeling kalau kamu (suaminya, Red) masih cinta ya kamu ikut berjuang buat saya untuk membangun usaha ini,” ujar Mike.

Burger Buto Makin Dikenal pada 2008

Pada 2008, Kedai 27 Burger Buto kedatangan tamu dari salah satu stasiun TV yang membuat kedai ini semakin ramai didatangi pengunjung.

“Setelah ramai itu, di bulan Desember ternyata saya hamil. Allah benar-benar kasih rezeki di tahun itu dan jadilah menu buto keceng,” kata Mike.

Mike Alami Kecelakaan hingga Tak Malu Disebut Difabel

Setelah nama burger buto melejit, Mike pada 2015 mengalami kecelakaan di dapur hingga tangan kirinya terpotong. Mike mengaku sempat dibully oleh teman-temannya karena tidak bisa mengangkat tangannya kirinya.

Mike pun tidak malu disebut difabel. Hal itu menjadi awal mula semangat Mike mengajak teman-teman difabel untuk bekerja dan berjuang melalui kedainya.

Sejarah Burger Buto Malang.
Mike dengan sabar membimbing salah satu karyawan difabel bernama Abid untuk mengemas pesanan pelanggan. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

“Waktu itu saya hanya tanya sama Allah, kalau anak yang lahirnya difabel itu gimana ya kerjanya. Eh besok paginya ada difabel angkatan pertama datang, dua orang, salah satunya si Nano namanya. Padahal, saya cuma tanya sama Allah, tiba-tiba datang difabel kepada saya,” ujar perempuan berumur 44 tahun itu.

Mike mengaku sejak saat itu dia mulai jatuh cinta dengan anak-anak difabel dan jatuh cinta dengan Allah yang selalu membantunya melewati badai.

Kegiatan sosial Mike ini awalnya direndahkan oleh orang-orang di sekitarnya karena mereka menganggap burger buto semakin terkenal karena dia mengumpulkan anak difabel.

Kuliner Burger Buto Malang.
Dari kanan, Ula, Mike, Gita, dan Selsa foto bersama ikon Kedai 27 Burger Buto. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

“Orang-orang nggak tahu kalau orang yang pertama jadi difabel di sini adalah saya sendiri,” ujar Mike menampik anggapan itu.

Mike mengajak anak difabel untuk bekerja dan berjuang untuk bertanggung jawab terhadap hidup mereka. Bahkan, dia menolak untuk bekerja sama dengan pihak mana pun.

“Menurut saya, berjuang itu ya dari diri saya bukan mempekerjakan orang lain. Untuk mereka, saya harus ikut bekerja juga, itu konsep kerja sosial buat saya,” jelas ibu dua anak itu.

Munculnya Dapur Bu Buto dan Crew Disabilitas

Selain Kedai 27 Burger Buto, Mike mengatakan, munculnya Dapur Bu Buto merupakan permintaan customer yang ingin memesan masakan rumahan dan kue spesial buatannya. Dia mengelola dapur ini bersama anak-anak difabel.

“Awalnya untuk seneng-senengan juga, akhirnya saya nyalakan lagi dan boom meledak usahanya! Alhamdulillah, Allah kasih rezeki luar biasa ramainya setengah mati sampai hari ini,” ucap Mike bahagia.

Tidak hanya itu, dia mengatakan, Kedai 27 juga menampilkan etalase disabilitas yang menawarkan hasil masakan Mike bersama anak-anak istimewanya. Dia mengatakan, hal itu dapat menjadi kebanggaan mereka.

“Mereka jadi ada kebanggaan, ini loh showcase-ku, kami bisa bikin donat dan kue. Walaupun itu juga bunda yang mengerjakan, tapi paling tidak ada nama mereka di situ,” ujar Mike bangga terhadap anak-anak asuhnya.

Kuliner Malang Burger Buto.
Dari kiri, Mike dan Gita memperkenalkan etalase disabilitas yang berisi kue buatan Mike dan karyawan difabel. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Kegiatan sosial Mike lainnya, Kedai 27 juga menyediakan program jumat berkah yang dapat dipesan secara umum. Program ini juga dikerjakan oleh Mike bersama crew disabilitas.

“Mereka bagian yang tempel sticker, bungkus makanan, belanja, tapi ya menunya nggak bisa ganti-ganti karena kalau ganti wah ngajarinnya sulit dengan keterbatasan mereka,” ucap Mike.

Saat ini, ada 10 karyawan difabel yang membantu Mike, terdiri dari tunagrahita dan Tuli. Mereka dapat membantu melayani pelanggan di kedai, sedangkan yang bekerja di dapur bisa membantu membuat roti dan minuman.

Untuk membedakan dari karyawan lain, para karyawan difabel ini menggunakan pin dengan tulisan “I’m Disability” agar lebih mudah dikenali.

Tentunya Mike menjalankan training terlebih dahulu sebelum mereka melakukan pekerjaannya. Dia mengatakan perekrutannya tergantung pada apakah mereka dapat merasakan cinta.

“Pokoknya kalau mereka jatuh cinta sama saya, ya itu yang saya rekrut. Kalau tidak ada rasa cinta jadinya sulit agar mereka nurut,” curhat Mike.

Burger Buto Sempat Jatuh dan Mulai Bangkit Kembali

Sejak 2018, Kedai 27 Burger Buto dan Mike Ragnar mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya dari Jawa Pos Radar Malang, Gubernur Jawa Timur, Radio Republik Indonesia (RRI), dan yang terbaru tahun 2023 dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang. Hal ini karena kegiatannya yang menginspirasi masyarakat.

Pada Mei 2023, usaha Mike sudah mulai tertata setelah pandemi. Sayangnya, dia divonis kanker ovarium oleh dokter. Mike mengatakan, dia pernah berdoa untuk ditunjukkan penyakitnya ketika semua sudah kembali tertata.

Penghargaan Burger Buto Malang.
Piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (2022) dan Dinsos P3AP2KB (2023) untuk Burger Buto karena telah mempekerjakan penyandang disabilitas. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

“Saya bilang sama Allah, Allah nanti kalau sudah temoto (tertata, Red) semuanya, tunjukkin saya sakit apa ya,” doa Mike.

Meskipun begitu, Mike tetap semangat berjuang menghadapi kanker dengan rajin mengikuti kemoterapi. Dia juga sempat tidak bisa jalan karena pemotongan tulang di ovarium dan rahimnya diambil.

Namun, berkat kegigihannya, dia bisa kembali berjalan. Dia berusaha ikhlas menjalani setiap cobaan yang diberikan oleh Allah.

“Saya berusaha ikhlas, berusaha mencintai cobaan yang Allah kasih ke saya,” ucap Mike yang lapang dada dengan keadaannya.

Penghargaan Burger Buto.
Piagam penghargaan dari Jawa Pos Radar Malang (2018) dan RRI Malang (2018) untuk Mike Ragnar sebagai figur yang menginspirasi publik. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Sebab, Mike hanya berharap anak-anak difabelnya dapat berhasil dan mampu untuk bertanggung jawab.

“Saya ingin Burger Buto maju bersama anak-anak ini. Saya nggak akan meninggalkan mereka,” janji Mike.

Kini, Mike pun dinyatakan sudah sembuh dari sakit kankernya. Dia berharap terus bisa mendampingi karyawan difabelnya agar menuju kemandirian.

Kedai 27 Jadi “Rumah” Para Difabel

Mike mengatakan, kedai ini lebih berasa seperti sekolah daripada tempat kerja. Begitu pula dengan pendapat orang tua teman-teman difabel yang bekerja di sini merasakan jika anaknya sedang magang.

Uniknya, Mike juga memfasilitasi para karyawannya dengan jam tidur siang. Dia mengatakan, ada jadwal-jadwalnya mereka diberikan kesempatan untuk tidur siang selama dua jam.

“Di sini ada tidur siangnya, loh. Ada jadwalnya sendiri masing-masing selama dua jam,” kata Mike.

Ide tersebut muncul karena ketika masa training terdapat fase ketika anak-anak difabel mengantuk dan tidak mau melakukan apa-apa. Begitu pula dengan karyawan normal diberi fasilitas yang sama agar sama.

Mike sebisa mungkin membuat tempat kerja ini menjadi seperti rumah yang memiliki jiwa kekeluargaan, ada peran bapak, ibu, dan anak agar semua merasa nyaman.

Kuliner enak Burger Buto.
Pajangan yang menampilkan foto karyawan difabel yang bekerja di Kedai 27 Burger Buto. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

“Meskipun ngupas bawang sak bawang e ilang gapapa, yang penting mereka berusaha dan punya tanggung jawab,” canda Mike.

Menurut Mike, dengan menerima apa adanya dan tidak mengubah merupakan bagian dari rasa cintanya terhadap mereka. Bahkan, dia juga masih membiayai karyawan yang sudah off dan apabila telah meninggal terdapat sumbangan melalui beberapa event.

“Saya nggak masalah ownernya Burger Buto nggak kelihatan, yang penting anak-anak saya aman dan punya masa depan yang baik,” pungkas Mike.

Kedai 27 Burger Buto Dikelola oleh Karyawan Mike

Saat ini, Mike lebih fokus pada Dapur Bu Buto bersama crew disabilitasnya. Sedangkan Kedai Burger Buto dikelola oleh manager kedai, Yuni Dwi Prasetyowati.

Yuni telah bekerja sejak 2016. Dia bertanggung jawab memproduksi Burger Buto bersama para karyawan secara homemade.

Ketika ditanya soal bahan-bahan makanan apa saja yang dibutuhkan, Yuni menjawab butuh mulai dari tepung, telur, fermipan, gula, dan tanpa bahan pengawet.

“Bahannya ya tepung, telur, fermipan, gula, dan tanpa pengawet tapi bisa tahan sampai dua hari kalau disimpan dalam kulkas,” kata perempuan berumur 42 tahun itu.

Mike Ragnar Burger Buto.
Menu yang ditawarkan di Kedai 27 Burger Buto. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Dia mengatakan, Burger Buto memproduksi setiap hari sehingga bahan roti maupun isiannya selalu fresh. Yuni mengatakan, per hari bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan porsi.

“Kalau lagi weekday biasanya sedia 20-50 porsi, tapi kalau Sabtu-Minggu bisa sampai 100 lebih,” jelas Yuni.

Dia juga berbagi pengalaman dengan mengatakan dirinya senang bisa bekerja sekaligus kerja sosial.

“Suka dukanya banyak, senang bisa kerja sosial juga bareng teman-teman difabel. Tapi ya harus banyak sabar juga kalau mereka lagi tantrum,” ujar Yuni.

Hingga saat ini, Burger Buto masih bertahan sejak 2003 dengan cabang di Kota Batu dan baru saja membuka cabang di Kabupaten Kediri pada 2024.

Review Pelanggan Kedai 27 Burger Buto hingga dari Luar Kota

Tidak hanya menjadi rumah bagi para difabel, Kedai 27 Burger Buto juga menjadi rumah bagi para pelanggan. Banyak pelanggan datang dari jauh hanya untuk kembali merasakan nikmatnya Burger Buto.

Selain itu, interiornya yang didominasi bahan kayu dan cahaya ruangan yang hangat membuat pelanggan betah dengan suasana tenang dan nyaman yang tercipta.

Salah satunya Ririn, 30, ibu rumah tangga yang menjadi pelanggan setia dari Gresik. Dia telah menjadi pelanggan setia di kedai ini sejak 2015.

“Ke sini mulai 2015, dulu masih pacaran belum menikah,” kata Ririn malu-malu.

Pelanggan Burger Buto Malang.
Keluarga kecil Ririn dan Fahmi dari Gresik telah menjadi pelanggan setia Kedai 27 Burger Buto sejak 2015. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Dia mengatakan selalu ingin kembali ke kedai ini bila sedang berkunjung ke Malang.

“Suasana di sini tuh enak, burgernya juga enak, jadi mumpung ke Malang harus balik ke sini,” kata Ririn.

Suami Ririn, Fahmi menambahkan, Burger Buto punya ciri khas tersendiri dengan harga yang murah.

“Menurut saya, burger ini punya ciri khas tersendiri, di Gresik dan Surabaya kan belum ada, terus murah juga ya,” tambah Fahmi.

Menu favorit keluarga kecil ini, yaitu Burger Long karena tidak terlalu besar dan mudah membaginya.

Sementara pelanggan lain, Okta, 34, ibu rumah tangga yang saat ini berdomisili Gresik, mengatakan, dia juga telah menjadi pelanggan setia Kedai 27.

“Sebelumnya sih sering ya karena saya orang Malang dan rumahnya dekat dari sini, tapi sekarang sudah ikut suami ke Gresik jadi jarang. Tahun ini baru dua kali ke sini sih,” kata Okta.

Kedai 27 Burger Buto Malang.
Pasangan muda Okta dan Faiz menjadi pengunjung setia tampak menikmati Burger Buto sambil mengobrol santai. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Dia menyukai Burger Buto buatan Kedai 27 karena bisa mendapatkan porsi besar dengan harga yang murah. Selain itu, anak-anaknya juga menyukai burger ini dengan favoritnya menu Buto Long roti pandan.

Suami Okta, Faiz menambahkan, dia selalu mampir ke Kedai 27 apabila sedang berkunjung ke Malang.

“Kalau ke Malang mesti mampir ke sini, Mbak. Bapak ibu saya yang di Gresik juga suka dan sering nitip,” kata Faiz.

Sementara pelanggan lain asal Malang yang kini berdomisili Sidoarjo, Fahmia Eka, 26, mengaku sering berkunjung sejak 2016.

“Dari tahun 2016-an sering ke sini waktu masih pacaran sama suami. Jadi selain saya suka karena murah dan porsinya banyak, kembali lagi mau mengenang masa itu,” kata pelanggan yang akrab dipanggil Mia itu dengan semangat.

Kedai 27 Burger Buto di Malang.
Pengunjung sedang asyik berbincang sambil menunggu pesanan datang. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)

Kedai 27 Burger Buto memang sering dikunjungi oleh para keluarga bahkan pasangan muda. Tidak hanya orang dewasa, banyak anak kecil juga suka dengan Burger Buto ini.

Pelanggan cilik yang datang bersama keluarganya dari Sidoarjo, Pandu Emanuel, 11, mengungkap menu favoritnya.

“Suka yang Burger Long karena ada ayamnya sama strawberry milk,” kata Pandu.

Ibu Pandu, Wulansari, 40, menambahkan, kalau keluarganya sering singgah ke Kedai 27 saat berlibur di Malang.

“Kalau ke Malang sering singgah ke sini, kadang dimakan di sini sambil dibawa pulang juga. Kalau nggak habis juga masih bisa disimpan untuk besok,” ujar Wulan.

Yuk, Segera Kunjungi Kedai 27 Burger Buto dan Tentukan Favoritmu!

Informasi buat kamu yang ingin menikmati Burger Buto, kedai ini buka pada Selasa-Minggu pukul 11.30-21.30 WIB. Menu yang ditawarkan sangat beragam mulai dari burger hingga nasi bakar.

Untuk menu burger, favoritnya adalah Burger Long Spesial yang dibanderol dengan harga Rp27.000. Sementara menu burger lainnya ditawarkan dari harga Rp20.000 hingga Rp39.000.

Untuk menu nasi bakar (naskar) memiliki beragam lauk, seperti ayam bakar, paru goreng, telur ceplok dan tempe penyet, dan lain-lainya. Menu ini ditawarkan mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000 dengan beberapa menu terdapat promo gratis es teh.

Kuliner Malang Burger Buto.
Mike asyik bercerita dengan salah satu pelanggan. (Foto: Dwi Lindawati/Tugu Jatim)

Di samping itu, ada aneka snack buatan dapur disabilitas yang menawarkan roti keju, roti cokelat, roti bakar, dan kentang goreng. Menu ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp6.500 hingga Rp25.000.

Kalau sedang makan pasti kamu butuh sesuatu yang menghilangkan dahaga, dong. Kedai 27 Burger Buto menawarkan beragam minuman kekinian, seperti susu caramel, jeruk yakult, matcha latte, strawberry milk, dan lain-lain. Harganya cuma Rp5.000 hingga Rp16.000 saja, loh.

Sangat menarik untuk dicoba bukan, apalagi setelah mengetahui kisah inspiratif dan perjuangan dari owrnernya Mike Ragnar? Jadi, ayo jadwalkan datang ke Kedai 27 Burger Buto bersama keluarga dan teman-temanmu dan coba kelezatannya secara langsung!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: Nur Laila Khoriroh/Magang

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Berita Kota Malang hari iniBurger Buto Kota MalangKedai 27 Burger Buto MalangKota Malang hari iniKuliner Burger Buto MalangMalangMike Ragnar pengusaha Burger ButoPeringatan Hari Disabilitas Internasional 2025Peringatan Hari Ibu 2025Profil Mike Ragnar
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Biya Agus.

Biya Agus, Magister Fisika yang Viral di TikTok Berkat Pembahasan soal Rezeki bersama Chatour Travel

by Dwi Linda
19/05/2026 4:41 PM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Senin malam (18/05/2026), H Agus Rahman MPd atau yang populer dengan nama Biya Agus Chatour Gresik, sesenggukan...

Mie Cendana.

Atika C. Larasati, Owner Mie Cendana Viral di Malang Kolaborasi Unik bareng Pelaku UMKM Lokal Perempuan

by Dwi Linda
01/05/2026 7:27 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Siapa sih yang nggak mengenal Mie Cendana sebagai salah satu kuliner viral dari Malang, Jawa Timur? Bahkan,...

Next Post
Malang Raya

Dishub Jatim: Malang Raya Diprediksi Diserbu Wisatawan di Malam Tahun Baru 

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID