JEMBER, Tugujatim.id – Di penghujung abad ke-19, wilayah Jember, Jawa Timur, mengalami transformasi signifikan akibat ekspansi kolonial Belanda. Kawasan yang semula didominasi oleh perkebunan tradisional mulai tersentuh modernisasi melalui pembangunan infrastruktur strategis, salah satunya adalah menara air di Pasar Tanjung.
Melansir dari berbagai sumber, menara air berarsitektur kolonial ini bukan sekadar bangunan teknis, melainkan representasi material culture yang merekam dinamika sosial-ekonomi masa itu. Dibangun sejak 1929, struktur ini menjadi saksi bisu pertemuan berbagai kepentingan antar etnis dan kekuasaan kolonial.
Kompleksitas Hubungan Antar Etnis
Kehadiran etnis Tionghoa di Jember jauh mendahului kedatangan kolonial Belanda. Mereka tidak sekadar pendatang, melainkan aktor penting dalam pengembangan ekonomi lokal.
Baca Juga: Uniknya Masjid Jami Ki Buyut Langkay Mojokerto, Masjid dan Menara Jadi Satu
Sejak 1795, tokoh seperti Kiai Tumenggung Suro Adiwikrama telah memainkan peran strategis di wilayah ini. Masyarakat Tionghoa menempati berbagai profesi kunci: pedagang kelontong, pengusaha hasil bumi, rentenir, dan petani. Mereka menciptakan ekosistem ekonomi kompleks di sekitar Pasar Tanjung yang kemudian menjadi pusat interaksi antar etnis.
Strategi Ekonomi dan Kolonial
Pemerintah Belanda secara cerdik memanfaatkan jaringan ekonomi etnis Tionghoa. Sistem pegadaian yang mereka kembangkan menjadi instrumen penting dalam menggerakkan perekonomian pertanian.
Dengan memberikan modal pendahuluan kepada petani, mereka menciptakan hubungan simbiosis mutualistis. Toko-toko milik etnis Tionghoa—mulai dari toko bahan pangan, roti, perhiasan—menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Meskipun saat ini tidak seramai masa kolonial, beberapa toko masih bertahan, mencerminkan ketangguhan komunitas.
Menara Air: Penanda Transformasi
Menara air di Pasar Tanjung, awalnya dikelola oleh Provencial Water Leiding Bedrijd, kemudian dialihkan ke Regentschap te Djember Water Leiding Bedrijf, adalah simbol nyata modernisasi infrastruktur.
Pembangunannya melibatkan kompleksitas teknik: pengeboran sumur artesis, pembangunan jaringan pipa yang menghubungkan rumah-rumah penduduk, mencerminkan ambisi kolonial untuk mengontrol dan mendistribusikan sumber daya vital.
Warisan dan Memori Kolektif
Hari ini, menara air ini berdiri sebagai monumen yang menceritakan kisah pertemuan kebudayaan, kolonialisme, dan adaptasi. Terletak di persimpangan jalan Samanhudi, Untung Suropati, dan Trunojoyo, bangunan ini merekam jejak sejarah yang tak terpisahkan dari dinamika sosial Jember.
Ini adalah artefak material yang berbicara tentang kekuasaan, negosiasi antar etnis, dan proses transformasi sosial-ekonomi di penghujung era kolonial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








