Mengenal Apa Itu ‘Toxic Positivity’ dan Dampak Buruknya bagi Individu

  • Bagikan
Ilustrasi Toxic Positivity yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Ilustrasi Toxic Positivity yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. (Foto ilustrasi: Pixabay)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ada sebagian orang yang berupaya memberi semangat pada rekan kerjanya, namun ternyata semangat yang diberikan tidak bisa membuat si rekan kerja membaik, justru terpuruk dan merasa dihiraukan. Hal itu, membuat istilah ‘toxic positivity‘ menghangat di kalangan pemuda, khususnya di dunia pekerjaan.

Mengenai ‘toxic positivity‘ sendiri merupakan kondisi di mana seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif, hingga menolak emosi-emosi negatif. Secara lengkap, Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Aliffia Ananta MPsi Psikolog menjelaskan lebih gamblang terkait ‘toxic positivity’.

Apa yang dimaksud ‘toxic positivity’ dalam lingkungan pekerjaan?

Dalam penjelasannya, Ananta menegaskan bahwa ‘toxic positivity’ merupakan upaya generalisasi atau memukul rata bahwa hidup harus diisi dengan pandangan optimis, positif dan kebaikan secara berlebihan.

Tanpa melihat sisi lain dari manusia, yang secara natural memiliki emosi-emosi negatif yang memang muncul dalam situasi tertentu dan perlu diberi perhatian khusus agar tidak membuatnya makin terpuruk.

“Jadi, yang dimaksud ‘toxic positivity‘ adalah memukul rata (generalisasi, red) secara berlebihan, mengenai bagaimana kita hidup itu perlu optimis, perlu melihat sesuatu hal dari sudut pandang yang selalu baik (positif, red),” terangnya, Selasa (06/07/2021).

Kenapa hal tersebut menjadi tidak baik atau ‘toxic‘? Karena, jelas Ananta, akan membuat individu, seseorang atau rekan kerja yang mendengar atau sedang merasakan emosi negatif, menjadi seolah ‘dipaksa’ dan ‘terpaksa’ untuk menjadi positif. Padahal tidak semudah itu.

“Hal ini, menjadi tidak baik dan berbahaya, karena seolah mereka diminta untuk tidak mempedulikan perasaan yang benar-benar mereka rasakan (misalnya saat sedih, tidak bersemangat, cemas, khawatir, kecewa, marah dan terpuruk, ketika emosi-emosi negatif muncul dan perlu diberi perhatian, red),” jelasnya.

Di sisi lain, ‘toxic positivity‘ juga merupakan istilah yang berada dalam situasi ‘dipaksa’ untuk menganggap sekunder masalah yang dihadapi, tegas Ananta, seperti perasaan sedih dan tidak nyaman, dipaksa untuk menjadi positif dengan cara yang ‘toxic‘, bersifat destruktif.

Dampak lingkungan kerja yang penuh dengan ‘toxic positivity’ bagaimana?

Lebih dalam, Ananta menjelaskan, bahwa dampak seseorang berada di dalam lingkaran ‘toxic positivity‘ yakni menjadi terbiasa untuk tidak memperhatikan bahaya, efek samping atau persoalan pada setiap perasaan yang muncul. Seperti khawatir, cemas, sedih, kecewa, marah, dengki, dan lain-lain.

“Dampaknya apabila ada di dalam lingkaran kerja ‘toxic positivity‘, karena orang terbiasa untuk ‘diminta’ ataupun ‘dipaksa’ (oleh lingkungan, red) menjadi positif, namun dilakukan secara ‘toxic‘,” ucapnya.

“Maka dia akan menjadi orang yang terbiasa tidak memperhatikan bahaya (di sekelilingnya, red). Karena, setiap kali mau bercerita dan menyampaikan rasa khawatir, ditimpali dengan sesuatu cerita yang lebih parah (mengadu nasib, red),” imbuhnya.

Sehingga, imbuh Ananta, dia terbiasa untuk tidak perhatian pada hal yang berbahaya bagi keberlangsungan emosi dan perasaan rekan-rekan kerjanya. Selain itu, jelas Ananta, dapat mempengaruhi sudut pandangnya terhadap suatu hal, sehingga berpengaruh pada cara bersikap dan berperilaku.

“Misalkan, ada kecelakaan yang terjadi di dekat posisinya berjalan. Lalu, menurutnya hal itu adalah suatu kejadian yang ‘biasa’. Dia juga bisa jadi orang yang ‘tidak dapat merasakan kehilangan’ (empati dan simpati, red), rasa sedih yang ada di dalam dirinya berkurang,” tuturnya.

Lalu, tambah Ananta, orang yang ada di dalam lingkungan kerja ‘toxic’, menjadi terisolasi dan terstigma. Karena dia tahu bahwa; ‘nanti kalau cerita mengenai hal-hal yang dirasakan’, tetiba mengingat teguran dan nasihat dari stigma ‘toxic positivity’ tersebut, sehingga dia memilih untuk diam saja. Merasa terisolasi dan terstigma.

“Dia akan punya masalah dalam soal komunikasi ya, karena sudah malas dulu untuk komunikasi. Lalu, dia juga punya ‘self esteem‘ nilai terhadap dirinya rendah, karena setiap kali dia mau cerita, yang didapat selalu hal-hal yang positif,” jelasnya.

  • Bagikan