JEMBER, Tugujatim.id – Program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan) yang digagas Bupati Jember Gus Fawait dinilai mampu memangkas birokrasi sekaligus memberi dampak psikologis bagi masyarakat. Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD PAN) Jember menyebut program ini sebagai terobosan pelayanan publik yang efektif.
Ketua DPD PAN Jember Abdus Salam Alamsyah atau Cak Salam, menegaskan, program Bunga Desaku bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan langkah nyata mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Menurut dia, kehadiran langsung bupati hingga menginap dan berkantor di desa membawa dampak besar bagi masyarakat, baik dari sisi pelayanan maupun kepercayaan publik.
Baca Juga: Gus Mamak Apresiasi Bunga Desaku, Atasi Keterbatasan Akses Digital di Jember
“Ini adalah program kebanggaan kami sebagai partai koalisi pendukung Jember Baru Jember Maju,” ujarnya.
Melalui program ini, dia melanjutkan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dilibatkan langsung untuk menyerap aspirasi masyarakat tanpa perantara.
“Melalui Bunga Desaku, seluruh OPD dilibatkan langsung untuk mendengar masukan masyarakat secara bertatap muka,” ujarnya.
Dia menilai pola tersebut mampu menghadirkan efisiensi, baik dari sisi anggaran maupun waktu yang harus dikeluarkan warga.
“Ini adalah bentuk efisiensi anggaran dan waktu bagi warga,” ujar Cak Salam, Rabu (25/03/2026).
Program Mampu Potong Jarak Pemerintah dan Masyarakat
Program Bunga Desaku juga dinilai mampu memotong jarak antara pemerintah daerah dan masyarakat. Warga tidak lagi harus datang ke pusat kota untuk mengurus administrasi atau menyampaikan aspirasi.
Selain itu, interaksi langsung dinilai memberi ruang bagi pemerintah untuk memahami persoalan riil di lapangan, termasuk yang tidak tersampaikan melalui kanal formal seperti Wadul Gus’e.
Tak hanya itu, PAN Jember juga mengapresiasi program lain yang dinilai berdampak luas, seperti jaminan kesehatan universal health coverage (UHC) dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa.
Di sektor ekonomi, aktifnya kembali penerbangan di Bandara Notohadinegoro dengan rute Jember-Bali dan Jember-Jakarta juga dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor dan membuka akses daerah.
Sementara itu, Camat Tempurejo Mohammad Najmul Huda menilai program Bunga Desaku menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tanpa sekat birokrasi.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias,” ujarnya.
Menurut dia, warga merasa memiliki kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan kepala daerah.
“Mereka merasa memiliki kesempatan langka untuk mendapatkan penjelasan kebijakan sekaligus mengajukan usulan program yang benar-benar mereka butuhkan,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, pelaksanaan program di wilayahnya pada Februari lalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Huda menambahkan, berbagai kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur menjadi isu utama yang disampaikan warga.
“Ada rasa puas yang berbeda bagi warga,” ujarnya.
Dia menjelaskan, perbedaan tersebut muncul karena masyarakat bisa langsung berdialog dengan pengambil kebijakan tertinggi.
“Jika biasanya mereka mengadu ke Pak Kades atau ke kami di kecamatan. Kali ini mereka bisa langsung berdialog dengan pengambil kebijakan tertinggi di Kabupaten Jember,” ujarnya.
Baca Juga: Bunga Desa Ku di Tanggul: Gus Fawait Siapkan Barista Jember Tampil di Food Street dan JSG
Hal itu, dia mengatakan, membuat masyarakat mendapatkan kepastian jawaban secara langsung.
“Hal ini membuat mereka mendapatkan jawaban yang instan dan pasti,” imbuhnya.
Melihat dampak tersebut, pihak Kecamatan Tempurejo mendorong agar program ini terus dilanjutkan.
“Menurut hemat kami, program ini sangat dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.
Dia pun menegaskan pentingnya dukungan bersama untuk keberlanjutan program tersebut.
“Keberlangsungannya harus kita dukung bersama demi kemajuan desa-desa di Jember,” pungkasnya. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








