Peka dan Responsif terhadap Pemanasan Global

Peka dan Responsif terhadap Pemanasan Global

  • Bagikan
Ilustrasi pemanasan global yang terjadi akibat polusi pembakaran minyak bumi.
Ilustrasi pemanasan global yang terjadi akibat polusi pembakaran minyak bumi. (Foto: Unplash)

Oleh: Nana Mardiana*
Tugujatim.id – Kita harus peka dan rensponsif terhadap pemanasan global yang kian mengancam kehidupan kita sendiri. Pemanasan global (global warming) bukan masalah yang dapat dapat dianggap remeh. Banyak dampak negatif yang terjadi pada bidang kehidupan manusia. Misalnya, kerusakan terumbu karang, kebaran hutan, dan lain-lain.

Para peneliti menjelaskan pemanasan global adalah suatu kondisi di mana terjadi peningkatan suhu rata-rata di atmosfer bumi. Pemanasan global dapat disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, industri, dan deforestasi hutan dalam skala besar. Aktivitas tersebut menjadi pemicu emisi karbon dan akhirnya bermuara pada efek rumah kaca.

Secara proses, pemanasan global dapat terjadi saat energi matahari yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh permukaan bumi dan awan. Namun, energi yang dipantulkan terhalang emisi karbon seperti CO2 dan gas lain. Akibatnya, suhu bumi meningkat karena adanya panas yang terjebak di atmosfer.

Dilansir dari dunia.tempo.co.id, pada November 2021 Indonesia menempati peringkat ke-8 sebagai negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Kontribusi emisi karbon yang diberikan sebanyak 0,5 miliar metrik ton. Nah, prestasi bertajuk ironi ini tentu perlu kita soroti bersama bukan?

Jadi jelas kenaikan suhu udara di Indonesia saat ini sebagai dampak pemanasan global. Jika belakangan ini kita merasa kepanasan atau gerah dan berpikir terjadi kenaikan suhu udara yang tidak biasa maka berarti kita meski peka dengan dampak negatif pemanasan global. Namun, peka saja tidak cukup. Perlu adanya sikap responsif terhadap dampak permasalahan tersebut.

Pada 31 Oktober-12 November 2021 digelar KTT PBB (konferensi tingkat tinggi perserikatan bangsa-bangsa) terkait perubahan iklim yang mempertemukan para pemimpin dunia di Glasgow, Skotlandia.

Konferensi tersebut juga biasa dikenal dengan sebutan COP26. Hal ini menjadi momen emas bagi Indonesia untuk bersikap responsif terhadap permasalahan pemanasan global. Jadi, sudah siapkah Anda menjadi peka dan responsif terhadap pemanasan global?

*Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Jember sekaligus member Garuda Literasi

  • Bagikan