• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Temuan rel trem di Malang saat proyek pembangunan Kayutangan Heritage. (Foto: AZM)

Temuan rel trem di Malang saat proyek pembangunan Kayutangan Heritage. (Foto: Dokumen)

Rel Trem Zaman Kolonial Ditemukan saat Bangun Kayutangan Heritage di Malang

Redaksi by Redaksi
6 years ago
in Sastra & Budaya, News
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG – Jalur rel trem pada zaman kolonial Belanda ditemukan di bawah aspal kawasan Kayutangan, Kota Malang saat pengerjaan proyek Kayutangan Heritage, Rabu (11/11/2020) kemarin. Hal tersebut otomatis menguak fakta historis yang telah lama terpendam.

Diduga, lintasan jalur trem ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Rel trem sepanjang sekitar 200 meter itu ditemukan saat pembongkaran jalan koridor Zona I dalam proyek Kayutangan Heritage yang baru saja dimulai pekan ini. Persisnya, jalur ‘ular besi’ ini ditemukan di Perempatan Rajabali, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang.

You might also like

BGN

Eks Kepala BGN Jadi Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Modus hingga Harta Kekayaan Dadan Hindayana Terkuak

03/06/2026 10:41 PM
Bawang Merah

Harga Bawang Merah di Probolinggo Tembus Rp65 Ribu, Dipicu Permintaan Iduladha

03/06/2026 8:13 PM

Baca Juga: 15 Daftar Website Penyedia Vektor Gratis yang Super Keren

Saat ditemukan, kondisi rel masih bagus dan kokoh, hanya saja tampak berkarat.

Dikatakan Pemerhati Rel Kereta, Indrana Cahaya Kusuma, yang langsung datang mengecek temuan bersejarah itu, bisa dipastikan dari melihat ukuran lebar lintangan rel 1.067 milimeter ini, merupakan standar rel kereta api.

Jika mengacu pada sejarahnya, kolonial Belanda mulai mengoperasikan rel kereta trem di Malang ini pada sekitar tahun 1903 silam. Total lintasan trem ini diperkirakan terbentang mulai dari Stasiun Blimbing hingga kawasan Jagalan.

“Diperkirakan total panjang lintasan rel sekitar 6 kilometer, dari Stasiun Blimbing hingga Jagalan. Dibuka sekitar pada 15 Februari 1903 dan ditutup kemungkinan pada tahun 1959,” ungkapnya, kemarin.

Lebih jauh, lintasan trem ini dibuat memang untuk mengangkut orang dan muatan barang. Tak heran, karena kawasan Kayutangan sejak dari sononya memang menjadi pusat perdagangan dan juga pemukiman warga Belanda dan Eropa.

Baca Juga: Spoiler One Piece 995: Pertarungan Big Mom vs Marco Dimulai

“Dulunya disini memang sentral bisnis. Jadi, ini (rel trem) adalah jalur perdagangan. Sementara, sentra-sentra produksinya ada di sini,” ujar pegiat sejarah di Komunitas Malang Raya Heritage tersebut.

Terpisah, menanggapi temuan ini, Wali Kota Malang, Sutiaji, memberikan instruksi kepada pelaksana proyek untuk mensiasati bagaimana cara rel ini agar tidak terkubur kembali.

Dia menyarankan, agar rel ini tidak ditutup sepenuhnya. Sebabnya, rel ini menjadi aset bersejarah penting bagi Kota Malang. Lebih jauh, setelah berkoordinasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), diputuskan agar tidak ditutup.

“Ini ada nilai sejarahnya. Jadi, keputusannya tetap tidak dibongkar, tapi dibuat ada semacam penanda. Supaya nanti orang tahu, dulunya di kawasan ini ada rel bersejarah,” jelasnya.

Dengan begitu, keberadaan jalur rel trem ini akan menjadi situs otentik yang menguatkan bahwa kawasan ini memang legendaris. ”Justru dengan ini, menunjukkan kalau kawasan Kayutangan benar-benar layak masuk kawasan heritage,” imbuhnya.

Baca Juga: Hari Ayah Nasional: Ragam Cerita Peringatan Hari Ayah di Dunia

Sebagai informasi, proyek Kayutangan Heritage ini adalah program dari Kementerian PUPR bertajuk program Kotaku. Proyek senilai Rp 23 miliar dari APBN ini, berusaha menyulap Kayutangan jadi seperti kawasan Malioboro di Yogyakarta.

Kayutangan, dengan warisan historis yang tinggi sebagai pusat perdagangan itu, masih bertahan hingga kini. Bahkan, juga menjadi pusat perkantoran dan pertokoan dengan bangunan lawas yang masih terjaga keasliannya. (azm/zya/gg)

Tags: belandaKayutangan HeritageKereta ApikolonialKota MalangMalangSejarahtrem
Redaksi

Redaksi

Related Stories

BGN

Eks Kepala BGN Jadi Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Modus hingga Harta Kekayaan Dadan Hindayana Terkuak

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 10:41 PM
0

Tugujatim.id - Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, resmi ditahan Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus...

Bawang Merah

Harga Bawang Merah di Probolinggo Tembus Rp65 Ribu, Dipicu Permintaan Iduladha

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 8:13 PM
0

PROBOLINGGO, Tugujatim.id - Harga bawang merah di Kabupaten Probolinggo masih bertahan tinggi usai Hari Raya Iduladha 2026. Di sejumlah pasar...

Semeru

Pendaki Semeru Terjatuh Saat Lewat Jalur Ilegal, Evakuasi Terkendala Medan Curam

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 6:15 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pendaki Semeru kembali memakan korban. Seorang pendaki dilaporkan terjatuh di lereng Gunung Semeru usai nekat melintas melalui...

Ledakan Balon Udara

Ledakan Balon Udara di Blitar, Polisi Bongkar Transaksi Mercon

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 4:16 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Penyelidikan kasus ledakan balon udara di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar kini menemui tantangan teknis. Pihak...

Next Post
Hindari Melakukan 7 Hal ini di Rutinitas Pagi

12 Aplikasi untuk Membuat Hidup Lebih Terorganisir

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID