Segera Dipatenkan, Baju Adat Kabupaten Kediri Motif Gringsing Adaptasi dari Cerita Panji dan Candra Kirana - Tugujatim.id

Segera Dipatenkan, Baju Adat Kabupaten Kediri Motif Gringsing Adaptasi dari Cerita Panji dan Candra Kirana

  • Bagikan
Baju adat. (Foto: Pemkab Kediri/Tugu Jatim)
Model tampak memperagakan pakaian bermotif Gringsing yang akan dijadikan baju adat Kabupaten Kediri. (Foto: Pemkab Kediri)

KEDIRI, Tugujatim.id – Diambil dari cerita Panji dan Candra Kirana, pakaian adat bermotif Gringsing akan segera dipatenkan menjadi baju adat Kabupaten Kediri. Hal tersebut diambil kisah di mana Candra Kirana yang saat itu sedang hamil dan akan melahirkan berniat menyerahkan pakaian tanpa motif (polos). Karena dirasa kurang pantas untuk diserahkan, akhirnya baju itu diberi motif yang kemudian dinamakan motif Gringsing.

Cerita itu disampaikan Sigit Widiatmoko, anggota tim pengkajian baju adat khas Kediri. Dia mengatakan, pengkajian penetapan pakaian khas Kediri itu dilakukan dari segi budaya Kediri, baik susastra, peninggalan arkeologi, maupun etnologi. Berdasarkan kajian susastra dari sumber-sumber yang ada dilihat secara semiotik atau penandaan akhirnya menetapkan motif Gringsing sebagai dasar.

Pakaian adat yang memiliki motif lidah api adalah representasi dari Ibu Kota Kediri yakni Dahanapura. Motif lidah api itu berkembang di ekonografi patung dan candi-candi yang ada di Kediri.

“Dua motif ini kami gabungkan menjadi motif Kediri, itu yang utama. Sedangkan motif lain hanya tambahan,” terang Sigit yang juga menjabat sekretaris tim ahli cagar budaya Kabupaten Kediri.

Pakaian adat yang akan dipatenkan itu yang membedakan dengan daerah lain, yaitu adanya banda atau kelengkapan. Untuk pakaian pria menggunakan sabuk Gringsing panjalu seperti yang tertulis dalam buku Harsa Wijaya. Sedangkan untuk perempuan menggunakan sampir atau selendang. Untuk penamaan pakaian pria bernama Wdihan Kadiri dan untuk perempuan Ken Kadiri.

Kelengkapan lain untuk pria menggunakan ikat kepala sebagai tokoh utama yang dinamakan ikat Jayabaya. Ikat ini merupakan perpaduan dari Panji yakni motif tekes dengan untiran semacam cemeti yang merepresentasikan pecut sebagai khasanah budaya kesenian di Kediri.

Pakaian pria itu ada dua jenis, baik untuk keseharian yang dinamakan Wdihan Kadiri Mapanji dan pakaian resmi Wdihan Kadiri Satria. Sedangkan untuk perempuan menggunakan sanggul yang dinamakan Padmagiri dengan hiasan berbentuk bunga teratai (padma) emas yang melambangkan Kediri itu wilayah yang kesuburannya diapit gunung.

“Untuk warna, kami menggunakan dasar prasasti Gunung Buthak yang merepresentasikan tentang warna panji-panji Kediri yakni bangtih yakni merah bata atau merah maroon,” bebernya.

Ketua tim kajian baju adat khas Kediri Imam Mubarok menyampaikan, pengkajian pakaian khas itu dimulai 26 November-20 Desember 2021. Meski dilakukan cepat, tapi tetap mengedepankan pada aspek sejarah yang menjadi rujukan.

“Di awal ada hal yang perlu kami pertimbangkan bahwa pakaian ini nantinya diharapkan menjadi baju adat,” katanya dalam acara audiensi dengan bupati Kediri pada Senin (31/01/2022).

Berangkat dari hal itu, kajian dilakukan didasarkan pada era Kediri awal. Untuk tim pengkajian pakaian khas Kabupaten Kediri melibatkan kalangan akademisi, arkeolog, desainer dan pembatik, budayawan, maupun tim internal dari Pemkab Kediri.

Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meminta untuk baju adat ini segera dipaten menjadi kekayaan intelektual Kabupaten Kediri.

“Saya meminta untuk segera dipatenkan,” ujarnya.

  • Bagikan