Sosiolog UI Sebut Pendidikan di Indonesia Masih Monoton dan Membosankan - Tugujatim.id

Sosiolog UI Sebut Pendidikan di Indonesia Masih Monoton dan Membosankan

  • Bagikan
Kegiatan pelatihan jurnalistik bertajuk Fellowship Jurnalisme pendidikan (FJP) 2021 Batch 3 yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung PT Paragon Technology and Innovation, Rabu (27/10/2021) menghadirkan Sosiolog UI, Imam Prasodjo. (Foto: Dokumen) tugu jatim pendidikan di Indonesia
Kegiatan pelatihan jurnalistik bertajuk Fellowship Jurnalisme pendidikan (FJP) 2021 Batch 3 yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung PT Paragon Technology and Innovation, Rabu (27/10/2021) menghadirkan Sosiolog UI, Imam Prasodjo. (Foto: Dokumen)

TUBAN, Tugujatim.id – Pendidikan di Indonesia dinilai masih monoton dan membosankan baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik. Hal itu diungkapkan oleh Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Imam Budidarmawan Prasodjo saat menjadi narasumber dalam pelatihan jurnalistik bertajuk Fellowship Jurnalisme pendidikan (FJP) 2021 Batch 3 yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung oleh PT Paragon Technology and Innovation, Rabu (27/10/2021).

Imam Prasodjo berpendapat pendidikan di Indonesia saat ini masih terpatri dengan sitem yang membatasi peserta didik maupun tenaga pendidik untuk berkreasi dan berkolaborasi sesuai keadaan. Ia menilai bahwa sekolah yang dianggap bisa menyelesaikan masalah, namun malah memunculkan berbagai masalah di dunia pendidikan itu sendiri.

Karenanya, ia menilai cara konvensiaonal dalam pengajaran dengan bercerita maupun pemberian materi teori yang konseptual membuat suasana pembelajaran menjadi monoton dan membosankan.

“Tak heran mereka (peserta didik, red) merasa bosan. Karena merasakan rutinitas belaka,” ujar Imam.

3 Metode Agar Pendidikan di Indonesia Bisa Bangkit

Pria kelahiran Purwokwerto ini mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang mungkin bisa menjadi jawaban atas permasalahan pendidikan yang terjadi saat ini. Pertama, perlu membangun kembali karakter bangsa yang dulu sering digaungkan oleh para founding fathers bangsa Indonesia.

“Bagaimana pendiri bangsa kita menekankan begitu pentingnya pendidikan karakter. Bisa dilihat beberapa kutipan tulisan Bung Hatta, ‘kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur itu sulit diperbaiki’,” kutip Guru Besar FISIP UI ini.

Kedua, yakni memperkuat jati diri bangsa dalam bingkai solidaritas kemanusian yang luhur. Menurutnya, peserta didik perlu diajarakan untuk cinta kepada tanah air. Patriotisme akan membuat anak bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Dan ketiga, yakni melakukan terobosan model pendidikan yang inklusif, pastisipatif, dan reponsif. Hal itu diharapkan bisa mengatasi permasalahan yang terjadi di tengah perubahan sehingga peserta didik bisa mendapatkan ilmu dari manapun sumbernya. Tidak melulu dibatasi ruangan maupun kurikulum yang tekstual.

“Saya sepakat dengan pemikirnannya Ivan Illich. Yakni membebaskan pendidikan didapatkan dari berbagai macam sumber. Bukan dibatasi oleh sebuah sistem. Dan Ki Hajar Dewantara yang mengatakan setiap orang adalah guru, dan setiap rumah menjadi sekolah. Jadi ilmu dapat didapatkan di manpun dan kapanpun, serta kepada siapapun,” ungkapnya.

Sebatas diketahui kegiatan yang digelar secara daring dihadiri oleh Nurcholis MA Basyari selaku Direktur GWPP sekaligus pembawa acara, para mentor FJP GWPP Mohammad Nasir, Haryo Prasetyo, dan Frans Surdiasis. Media Tugujatim.id dan Tugumalang.id termasuk di antara 15 wartawan/media peserta FJP 2021 Batch III, serta belasan mahasiswa yang magang di Kampung Ilmu juga turut hadir pada kegaitan tersebut.

  • Bagikan