Tentang Perasaan Negatif dan Cara Mengatasinya

Tentang Perasaan Negatif dan Cara Mengatasinya

  • Bagikan
Rahayu SJ, Mahasiswi IAI Al Qolam Kabupaten Malang. (Foto: Dokumen)

Oleh: Rahayu SJ, Mahasiswi IAI Al Qolam Kabupaten Malang

Tugujatim.id – Dua tahun ini, isu kesehatan mental kerap kali menjadi perbincangan dari banyak kalangan, baik remaja, dewasa, pekerja kantoran, pendiri start-up, bahkan publik figur. Mereka mulai terbuka dengan isu kesehatan mental.

Kesehatan mental atau yang disebut juga mental illness adalah istilah yang mengacu pada berbagai kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, suasana hati, atau perilaku seseorang. Seperti stres, cemas, sedih, kecewa, sakit hati, dan perasaan negatif yang kadarnya berlebihan.

Perasaan tersebut jika dibiarkan akan mempengaruhi kehidupan kita. Contoh, akibat stres yang berlebihan mengakibatkan tidak produktif. Kecewa dan sakit hati berlebihan akan membuat kita tidak mood untuk beraktivitas, sedih yang berkepanjangan juga tidak baik untuk psikologis kita.

“Pikiran bisa dikendalikan, tapi perasaan harus kita terima,” itu kata David Irianto, Co-Founder Greatmind Indonesia. Kalau sudah menyangkut perasaan, maka cara terbaik untuk meresponnya adalah dengan menerima terlebih dahulu. Nah, “menerima” perasaan ini gampang-gampang susah. Menerima perasaan itu menyadari sepenuhnya mengenai apa yang sedang kita rasakan tanpa berusaha menghakimi perasaan tersebut.

Contoh, saat sedang sakit hati akibat putus cinta, kita tidak langsung menghakimi dengan perkataan, “memang aku ini tidak pantas dicintai,” atau “pasanganku memilih meninggalkanku karena aku tidak lebih baik daripada si A, B, dan seterusnya.”

Menerima perasaan ini menjadi satu kunci paling penting untuk mengatasi perasaan yang sudah timbul. Lantas, bagaimana cara menerima perasaan? Apa perlu ke psikolog? Apa perlu ke dokter kejiwaan untuk didiagnosa? Jawabnya adalah NO!

Salah satu cara menerima perasaan negatif yang bisa dilakukan adalah dengan journaling. Ya, journaling! Pernah dengar kata istilah journaling? Mungkin terdengar asing ya. Tapi kalau saya ganti jadi menulis diary? Pasti tahu ya? Nah, journaling itu sama dengan menulis diary, itu penjelasan singkatnya. Tapi penjelasan yang lebih detailnya bagaimana?

Journaling adalah kegiatan menuangkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan mau pun gambar supaya kita dapat memahami dengan jelas apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan.

Saya rutin melakukan journaling ini sejak kelas 3 SD. Ya, dulu isinya hanya tentang curhatan saya sehari-hari, seperti saat saya dapat nilai jelek, atau saat saya dimarahi ibu, atau bisa pula saat saya dimusuhi teman sekelas, hehehe. Sesederhana itu. Tapi nyatanya, dalam satu tahun terakhir, journaling ini bukan hanya sekedar mencurahkan perasaan saya, tapi lebih dalam, saya bisa mengetahui akar dari perasaan saya selama ini.

Saat saya sedang merasakan stres, marah, sedih, kecewa, dan perasaan yang tidak mungkin saya ungkapkan kepada orang lain, karena takut dan malu, maka journaling adalah jalan keluarnya. Dengan menulis semua perasaan yang saya rasakan secara jujur, saya lebih tahu akar dari perasaan saya ini. Itu membantu saya dalam menenangkan pikiran dan menentramkan hari-hari saya.

Saya sering menyarankan teman-teman untuk memulai menulis apa yang mereka rasakan, lantas mereka bertanya, “bagaimana cara memulainya?”

Saya memulai dengan mengambil buku diary saya, atau biasanya kertas HVS warna putih. saya tulis satu kalimat mengunakan huruf kapital, APA YANG SEDANG KAMU RASAKAN, RAHAYU? Lantas semua uneg-uneg itu tersampaikan.

Coba langsung kuberi contoh ya.

Suatu hari saat pulang dari kampus, saya merasa sangat capek, lelah seluruhnya. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Imbasnya, saya jadi marah-marah ke adik. Lantas, saya duduk di kamar belajar, mengambil selembar kertas, dan mulai menulis satu kalimat,

APA YANG SEDANG KAMU RASAKAN, RAHAYU?
Aku sedang merasakan capek!
KENAPA? Sepertinya karena tadi ketika presentasi aku gelagapan, atau sepertinya karena tadi waktu makan siangnya terganggu rapat mendadak, dan rapatnya sampai sore, atau sepertinya karena tadi pas aku makan, sotonya enggak panas, atau karena tadi aku dapat komentar jelek di Instagram, atau karena aku tadi pas rapat juga terlalu memaksakan kehendakku.

Nah, kalau sudah jelas capeknya karena apa, nanti bisa diidentifikasi apakah alasan capek kita ini termasuk dalam hal yang bisa kita ontrol atau tidak. Contoh, terkait presentasi yang gelagapan, ini kan murni faktor internal (dalam diri) yang bisa kita kontrol.

“Okei, Rahayu, tadi kamu presentasi gelagapan, itu mungkin karena kamu terlalu nervous, sehingga saking berlebihannya jadi tidak fokus, nah kamu nervous ini karena kamu semalam hanya berlatih satu kali. Nah, lain kali, kamu kalau latihan jangan mendadak ya. Latihan sebanyak-banyaknya, bisa 8-10 kali supaya kamu bisa memahami betul apa yang akan kamu presentasikan sehingga kamu tidak nervous berlebihan nanti.”

Dengan menjelaskan apa perasaan kamu, darimana akar perasaan tersebut, lalu memilah apakah alasan tersebut sesuatu yang bisa kita kontrol atau tidak, maka perasaan kita akan berangsur-angsur membaik. Tidak akan sesesak sebelumnya, kita juga jadi lebih mengenal diri kita sendiri. Ini adalah perjalanan paling penting, perjalanan untuk mendewasakan diri sendiri, perjalanan untuk mengenal siapa sebenarnya kita ini.

  • Bagikan