Wagub Emil Dorong INAYES “Masuk” SMP

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menerima kunjungan INAYES, Kamis (24/11/2022). Foto: Ardia Anwar/Tugu Jatim.

SURABAYA, Tugujatim.id – Indonesia Youth Ecnomic and Society (INAYES) terus bergerak mewadahi anak muda memiliki kompetensi di berbagai bidang. Untuk itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak mendorong INAYES masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Usia SMP menurutnya menjadi awal bagaimana anak muda memilih langkah kedepan.

Hal itu disampaikan Emil saat menerima kunjungan INAYES ke rumah dinasnya, Kamis (24/11/2022). Kunjungan dipimpin Ketua Umum DPP INAYES Aldi Prastianto, Ketua DPW INAYES Jawa Timur Ahmad Fuad Rahman, dan para anggota INAYES Jatim.

Aldi menyampaikan gerakan INAYES di berbagai daerah, bagaimana pihaknya membantu perkembangan anak muda di dunia pendidikan, bisnis dan lainnya. Salah satunya dengan program beasiswa luar negeri. Untuk itu, Aldi mengajak Pemprov Jatim menjadi mitra INAYES di Jawa Timur, guna memberikan pendampingan terhadap permasalahan, dan perkembangan anak muda Jawa Timur.

Ketum DPP INAYES Aldi Prastianto bersama Wakil Walikota Surabaya Armuji dan Ketua BEM Unair Yoga Haryo, menjadi narasumber talkshow vocational leadership di Unair Surabaya, Kamis 24 November 2022. Foto: Ardia Anwar/Tugu Jatim.

Gagasan yang disampaikan Aldi disambut baik Emil. Wagub Jatim tersebut mendorong agar INAYES bisa membantu anak muda di Jawa Timur, khususnya dimulai dari anak usia SMP kelas 3. Karena menurutnya, di usia tersebut, anak muda mulai mencari-cari langkah selanjutnya. Sehingga INAYES bisa memberikan arahakan agar muda tidak salah pilih langkah.

“Ada beberapa metode, kalau saya mendorong INAYES untuk masuk ke SMP. Karena anak muda di usia itu yang sedang mencari-cari apa langkah kedepan,” tutur Email.

Selain itu, pengangguran yang banyak terjadi juga perlu disikapi INAYES. Namun lapangan kerja yang relatif sulit kata Emil, perlu dipikirkan oleh banyak pihak. Misalnya Pemprov Jatim yang menggagas Millenial Job Center. Program itu kata Emil, menjadi salah satu cara memfasilitasi para calon pekerja di Jawa Timur.

“Kami hubungkan pencari kerja dengan koorporasi. Tapi kami lakukan seleksi untuk mereka calon pekerja yang mendaftar di Millenial Job Center. Setelah itu kami latih dengan mentor, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk menangkap peluang. Hasilnya bagus, sekarang sudah banyak peserta yang diterima perusahaan, bahkan ada juga yang memilih freelance tapi selalu mendapat repeat order dari perusahaan,” imbuhnya.

Para lulusan SMA, SMK, atau bahkan kampus, menurut Emil, tidak serta-merta langsung diterima oleh perusahaan. Karena lulusan baru belum memiliki portofolio bekerja. Millenial Job Center itulah kata dia, yang kemudian memberikan sertifikasi, usai dilakukan pendampingan dan peningkatan kompetensi. Sehingga koorporasi bisa melirik dan menerima para peserta Millenial Job Center tersebut.

“Begitu juga untuk membantu mengurangi angka pengangguran, itu sederhana. Caranya dengan membangkitkan ekonomi. Jika ekonomi daerah bangkit, lapangan kerja tercipta dan tumbuh,” pungkasnya.