Bisnis  

Desa Batik dan Tenun Gedog di Tuban Jadi Desa Devisa Jatim

desa batik tugu jatim
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky mengunjungi Desa Batik dan Tenun Gedog awal bulan November 2022. Foto: Dok Diskominfo Tuban

TUBAN, Tugujatim.id – Dua desa di Kabupaten Tuban menjadi Desa Devisa Jawa Timur. Dua desa itu adalah Desa Batik dan Tenun Gedog di Kabupaten Tuban, yaitu Desa Margorejo dan Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek.

Peresmian itu dilakukan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa didampingi Direktur Pelaksana Bidang Hubungan Kelembagaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Chesna F Anwar, pada awal bulan November lalu.

Perajin batik dan tenun gedog asal Desa Margorejo, Nanik Hari Ningsih mengaku bangga dan bersyukur atas capaian tersebut. Melalui proses kurasi yang dilakukan oleh LPEI selama beberapa bulan, telah membuat desanya terpilih menjadi Desa Devisa.

“Tim LPEI melihat proses awal sampai akhir dalam kita memproduksi batik tulis dan tenun gedog. Dari tanam kapas sendiri, membuat benang, sampai proses menenun dan membatik,” kata Nanik.

Nanik yang telah memulai menekuni batik tulis tenun gedog mulai tahun 1998 ini, menjelaskan bahwa usaha yang ia jalankan telah menyerap tenaga kerja dari tetangga sekitar. Selain itu, juga memberdayakan para ibu rumah tangga untuk berkreasi di sela waktu luang mereka bertani di sawah.

Tak hanya dari kalangan ibu-ibu hingga lansia, bahkan banyak anak muda yang juga bekerja sebagai penenun. Nanik sadar betul, dampak perkembangan usahanya adalah wujud pemberdayaan masyarakat dan telah berdampak pada perekonomian tetangga sekitar.

“Ada 35 orang pekerja harian tetap dan 60 lebih harian lepas. Hasilnya lumayan, untuk ibu-ibu agar asap dapur terus mengepul,” ujarnya.

Selama satu bulan, Melati Mekar Mandiri, usaha tenun gedog milik Nanik, bisa memproduksi 400 potong gedog polos putih. Selanjutnya, akan disetor ke eksportir untuk pemasaran ke luar negeri. Ia juga banyak menerima pesanan untuk di ekspor ke Jepang, di mana gedog polos dijadikan sebagai bahan dasar kimono.

Sementara di dalam negeri, Nanik memasarkan produknya di galeri miliknya dan melalui pameran di berbagai kota. “Kami aktif ikut pameran dan laris manis,” ujarnya.

Nanik mengaku, sudah banyak masyarakat yang tahu tentang tenun gedog, namun masih butuh eksplorasi untuk jenis fashion yang ditawarkan untuk konsumen.

Menurutnya, saat ini para perajin sudah adaptif dengan perkembangan fashion, mulai dari motif hingga bentuk karya, sehingga banyak yang tertarik. Untuk hal tersebut, pelatihan yang diberikan oleh LPEI dan Pemprov Jatim membantu pengembangan pola pikir para perajin.

“Kami dapat pelatihan terkait pemasaran, seperti bagaimana jenis media apa dan lewat kerja sama seperti apa agar pasar kita lebih meluas,” terang Nanik.

Usai menjadi Desa Devisa, Nanik dan para perajin lain berharap desa kelahirannya bisa berkembang. Selain itu, batik tulis tenun gedog dapat merajai pasar Indonesia hingga manca negara.

Nanik mengakui, dalam dua tahun terakhir merupakan cobaan berat bagi perajin karena pandemi COVID-19 membuat pesanan jauh berkurang. Namun, semangat dari semua pihak serta berhasilnya Desa Kedungrejo menjadi Desa Devisa, membuatnya bangkit. “Kita semangat kembali karena niat kita selain untuk kesejahteraan, juga misi untuk melestarikan tenun ini bersama masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, dilansir dari laman Kominfo.jatimprov.go.id pada awal November, Khofifah mengaku optimistis akan mampu meningkatkan kinerja ekspor di Jatim, utamanya dari pengusaha yang berbasis UMKM. Sehingga, dalam waktu yang sama akan bisa meningkatkan kesejahteraan para perajin.

“Ada enam Desa Devisa di Jawa Timur. Kita berharap ini bisa meningkatkan kinerja ekpsor dan sekaligus bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat utamanya perajin,” ucapnya.

Khofifah menambahkan, tujuan utama Desa Devisa adalah untuk mengekskalasi market produk lokal untuk bisa masuk ke pasar ekspor. Yang mana dalam program ini juga disediakan mentor-mentor ahli yang akan mendampingi pelaku usaha untuk bisa meningkatkan daya saingnya hingga produknya laku di pasar ekspor.

Sehingga, Program Desa Devisa menjadi bentuk nyata bahwa pemberdayaan masyarakat, utamanya untuk ekspor, bisa dimulai dari lini mana saja.

“Melalui Program Desa Devisa ini, bisa kita petakan dan prioritaskan wilayah yang memiliki produk unggulan sejenis atau produk complementer, sehingga dapat saling memperkuat dan menguatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.