Tradisi Unik Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Jawa Timur - Tugujatim.id

Tradisi Unik Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Jawa Timur

  • Bagikan
Maulid Nabi Muhammad tradisi unik maulid nabi di jawa timur
Selamat Hari Maulid Nabi Muhammad. (Foto: Freepik)

Beberapa daerah di Jawa Timur memiliki tradisi unik dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Ya, selain bacaan Sholawat Nabi, peringatan untuk merayakan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW ini sungguh beraneka ragam di Indonesia. Namun, yang jelas semua masyarakat muslim selalu menyambutnya dengan penuh suka cita.

Lantunan sholawat nabi biasanya terdengar dari surau hingga masjid. Semua itu pun terkesan meriah dan sakral. Selain itu, adapula beberapa tradisi unik yang digelar di beberapa daerah di Jawa Timur untuk memperingati Maulid Nabi ini. Apa saja? Berikut adalah beberapa tradisi tersebut.

Baca Juga: Kebun Binatang Surabaya Batasi 3.000 Pengunjung per Hari saat Long Weekend

1. Mojokerto

Masyarakat Mojokerto memiliki tradisi unik yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi. Mereka yang tinggal di dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto rutin melaksanakan tradisi Keresan atau Grebeg Keres saat Maulid Nabi. Tradisi ini mendapat antusiasmeyang besar dari ribuan warga. Mereka berebut hasil bumi dan produk asli desa setempat yang digantung dari ujung dahan paling tinggi hingga pangkal pohon kersen atau keres. Ratusan hadiah tersebut diikat dengan tali rafia.   Pohon keres dengan banyak buah ini menyimbolkan kelahiran Nabi Muhammad yang membawa berkah untuk masyarakat luas.

2. Madiun

Masyarakat Kediri memiliki tradisi unik yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi. Tradisi ini bernama sebar udikan. Tradisi yang merupakan warisan nenek moyang ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai macam umur, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mereka berebut koin belasan juta rupiah yang disebar di halaman rumah warga. Selain itu, adapula tradisi Garebek Maulud. Tradisi ini meliputi kegiatan  Madiun berselawat melalui parade seribu rebana, doa bersama, dan ditutup dengan kirab gunungan Jaler atau laki-laki dan Estri atau perempuan. Kirab itu dimulai dari Masjid Kuno Taman menuju Masjid Besar Kota Madiun.

Baca Juga: Taman Nasional Komodo Klaim Pembangunan Proyek Tak Ganggu Habitat Komodo

3. Kediri

Masyarakat Kediri, Jawa Timur memiliki tradisi unik yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi. Tradisi ini sudah dilakukan sejak lebih dari seratus tahun lalu. Tradisi ini dilakukan oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan Masjid Jamsaren.

Tradisi ini terbilang sangat unik karena tradisi ini dilakukan dengan menyebar uang di teras masjid. Tradisi inipun selalu diikuti oleh sebagian besar orang dewasa hingga anak-anak. Tujuan dari tradisi ini adalah agar semua orang khususnya anak-anak bisa lebih rajin beribadah di masjid.

Mereka pun berebut uang receh. Rebutan koin logam ini merupakan bentuk sukacita warga Kediri atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

4. Surabaya

Masyarakat Surabaya memiliki tradisi unik yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi. Selain bacaan sholawat Nabi, mereka yang tinggal di Kampung Nambangan, Cumpat Kenjeran biasanya menggelar Kirab Maulid yang dimulai dari Kampung Nambangan tepatnya Masjid Al Mabrur hingga Taman Suroboyo.

Selain itu, adapula tradisi Grebeg Maulud yang dilaksanakan oleh daerah-daerah lain di Surabaya. Tradisi Grebeg Maulud merupakan salah satu warisan budaya yang ada sejak zaman para wali. Tradisi ini diinisiasi oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu syiar agama Islam. Tradisi ini bertahan hingga kini dengan bentuk beragam, mulai dari topeng maulud, gunungan hingga khitanan massal.

Baca Juga: Proyek ‘Jurrasic Park’ Taman Nasional Komodo Tuai Polemik di Media Sosial

5. Banyuwangi

Masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi unik yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi. Tradisi ini mampu mewujudkan dan merepresentasikan spirit gotong royong. Mereka rutin menggelar tradisi endhog-endhogan. Tradisi ini selalu dilakukan sejak tahun 1926. Tradisi ini memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan berbagi dan peduli terhadap sesama. Tradisi ini dilakukan dengan mengarak ratusan telur yang ditancapkan pada jodang (pohon pisang) dan ancak (wadah berisi nasi dan lauk pauk). Setelah diarak, jodang dan ancak langsung dibawa ke masjid untuk dibacakan selawat dan doa. Acara diakhiri dengan pembagian telur dan makan bersama. (Sindy Lianawati/gg)

  • Bagikan