Paus Sikat Terancam Punah, Kapal Kargo Diduga jadi Penyebab

  • Bagikan
Ilustrasi paus sikat. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi paus sikat. (Foto: Pixabay)

KANADA, Tugujatim.id – Bagi Paus Sikat yang berada di Atlantik Utara, bertabrakan dengan kapal kargo besar merupakan salah satu ancaman paling mematikan bagi populasi yang terancam punah.

Penelitian baru dari Kanada telah menemukan bahwa di bawah pembatasan kecepatan maritim pemerintah saat ini, serangan yang terjadi cenderung berakibat fatal. Para peneliti menyebutkan pembatasan kecepatan pemerintah Kanada ternyata tidak cukup untuk mencegah kematian hewan yang terancam punah.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Berdasarkan makalah baru yang diterbitkan di Marine Mammal Science, ahli biologi telah menemukan bahwa tabrakan antara kapal besar dan paus dengan kecepatan 10 knot memiliki peluang 80 % kematian pada hewan yang ditabrak.

Baca Juga: 12 Aplikasi untuk Membuat Hidup Lebih Terorganisir

Penulis utama studi tersebut, Sean Brillant, seorang ahli biologi konservasi untuk Canadian Wildlife Federation sekaligus asisten prosefor di Universitas Dalhousie di Halifax mengatakan bahwa pembatasan kecepatan akan bisa mengurangi kemungkinan tersebut.

“Pembatasan kecepatan memang mengurangi kemungkinan kematian yang terjadi jika kapal menabrak. Tapi, hal itu saja tidak cukup. Kita perlu berhati-hati dalam berpikir bahwa kita telah memecahkan masalah ketika kenyataannya adalah kita belum melakukannya.”

Menurut data perkiraan, hanya tersisa 356 paus sikat di bagian Atlantik Utara. Kematian mereka sebagian besar disebabkan oleh tindakan manusia. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, pemerintah Kanada telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kematian paus, termasuk dengan membatasi kecepatan kapal-kapal besar dan menutup area penangkapan ikan komersial dimana paus sering terlihat.

Kapal kargo yang sering bertabrakan dengan paus sikat membuat populasi spesies ini semakin terancam. (Foto: Pixabay)
Kapal kargo yang sering bertabrakan dengan paus sikat membuat populasi spesies ini semakin terancam. (Foto: Pixabay)

Baca Juga: Fans Kpop Harus Bangga, Sebab Paham Budaya Korea Punya Banyak Manfaat

Brillant dan timnya menunjukkan bahwa tabrakan seringkali berakibat fatal pada kecepatan yang relatif lambat. Namun mereka juga terkejut menemukan bahwa kapal yang lebih kecil seperti jenis perahu lobster masih memiliki peluang untuk membunuh paus jika keduanya mengalami tabrakan.

“Jika Anda meletakkan dua benda dengan ukuran yang sama dan salah satunya lunak dan licin serta yang lainnya tidak pecah saat bertabrakan dengan sesuatu, kemungkinan cedera serius cukup bagus,” jelas Brillant.

Brillant juga menjelaskan bahwa Badan transportasi pmerintah setempat, Transport Canada dan nelayan komersial telah tertarik dengan temuan tersebut. Transportasi Kanada mewajibkan kapal yang lebih kecil dan panjangnya lebih dari 13 meter serta mengurangi kecepatan, mungkin dapat mencerminkan informasi baru.

Para ahli lainnya juga mengindentifikasi “kecepatan ambang” 5 knot untuk kapal kargo besar sebagai titik dimana tabrakan mengurangi kemungkinan fatal, kecepatan lambat juga menyulitkan kapal besar untuk mempertahankan kendali yang aman. Menurut fisika kapal besar, pembatasan kecepatan saja tidak cukup untuk menangkal ancaman kepunahan yang terjadi. Sebaliknya, pemerintah federal dan industry kelautan perlu lebih ambisius dalam menanggapi prospek kematian yang lebih banyak. Brillant mengakui bahwa tindakan lebih lanjut adalah “prospek yang sulit”.

Baca Juga: 15 Daftar Website Penyedia Vektor Gratis yang Super Keren

Selain itu, pemerintah setempat juga menutup pengiriman ke daerah yang sering dikunjungi oleh paus. Ia menunjuk pada sistem peringatan dini atau memikirkan kembali bagaimana kapal diproduksi sebagai cara untuk mengurangi kemungkinan tindakan manusia atau kelambanan untuk membunuh paus sikat.

“Kami jelas perlu mengembangkan industri kami di lautan dengan cara yang tidak sengaja menyebabkan kepunahan spesies,” kata Brillant. “Hanya karena itu dilakukan karena kesalahan tidak berarti itu adalah hasil yang dapat diterima.” imbuhnya. (Nurul K/gg)

 

Referensi: The Guardian

  • Bagikan